deeJourney

Just only deejorney.wordpress.com

Repotase-ku di Bandung April 30, 2009

Filed under: behind d'scene of deeJourney — deejourney @ 11:39 am

Awal bulan April lalu, aku mendapat tugas repotase dari redaksi Suara Mahasiswa dikampusku untuk mengisi arikel ragam. Ketika itu objek bahan penelitan untuk repotase adalah seekor ulat sutra . Aku ditugaskan untuk meliput sebuah tempat peternakan ulat sutra di Jalan Arcamanik, Padepokan Dayang Sumbi, Bandung Timur.

Pagi-pagi seklali, pukul 05.40 aku berangkat dari kos-kosan ku menuju pangkalan sebuah travel yang tlah kupesan satu hari sebelumnya. Ketika tlah sampai disana, aku harus menunggu setengah jam dari pukul 06.00 untuk keberangkatan 06.30. Sambil mengisi waktu, aku keluarkan ipod andalanku untuk menghindari kejenuhan. Saat itu yang kurasa adalah rasa dag dig dug tak menentu. Dikarenakan, hal ini adalah kali pertama aku ke Bandung sendirian dan tidak mengenal medan area berita disana. Untungnya, aku ditemani oleh seorang teman lama yang mengerti akan kondisi area Bandung.

Pukul 06.35 aku berangkat dari tempat pangkalan travel tersebut yang letaknya di daerah Tanjung Barat. Selama perjalanan, aku terus memandangi pemandangan, mendengarkan ipod, sesekali memotret keadaan jalan dengan kamera pocket ku, dan tentu saja tak lupa aku memotret diriku sendiri;)

Ternyata perjalanan menuju Bandung sangatlah cepat, Hanya dua jam saja jarak yang kutempuh. Pukul 08.30, aku tlah sampai di pool pemberhentian travel. Kesan pertama yang ku tangkap dari kota kembang ini adalah jalan transportasi darat disini rumit dan terkesan tak teratur, muter-muter, dan kemungkinan aku bisa nyasar jika aku mengelana sendiri. Hal ini kusadari, setelah aku benar-benar memerhatikan secara sadar setelah aku berkali-kali ke kota ini. Mungkin efek dari kedatanganku yang sendiri kali yaa, jadi lebih sering memerhatikan hal-hal seperti ini. Ketika tlah tiba disana, aku langsung menunggu temanku itu untuk segera menjemputku. Karena ada urusan kecil yang medesak, akhirnya temanku itu, sedikit lebih lama menjemputku. Pukul 10.00 dia tlah datang. Ada perasaan tak enak karena tlah membuatku menunggu lama, katanya. Tapi sejujurnya aku yang lebih tak enak, karena menggangu hari weekend -nya..hihihi:). Sebelum pencarian lokasi berita, kita sempat sarapan dulu, disebuah tenda makan nasi timbel- aku lupa namanya-. Seusai makan, kita langsung mencari denah lokasi berita yang ingin aku liput. Pencarian yang membutuhkan waktu sedikit lama, bertanya sana sini , dan macet yang tiada tara. Yang menjadi perhatianku disini adalah saat perjalan menuju disana. Kulihat kultur disana, masyarakatnya begitu ramah terhadap orang asing sepertiku. Temanku itu, jika bertanya selalu ada kata ‘ a ‘ untuk panggilan para pemuda disana dan ‘ teh ‘ untuk perempuanya. Kalau menurut temanku itu, peuyem-peuyem disana cantik-cantik, tapi matrealistis. Aku geli mendengarnya, dan kufikir, stigma masyarakat Indonesia, ternyata begitu kuat eksistensinya. Seperti yang sering kudengar, ” nanti kalo mau menikah, jangan sama orang ini, yang terkenal pelit. Atau jangan orang yang dari pulau ini, mereka bilang tukang selingkuh, keras dan kasar. Lebih gelinya lagi, kalo sama orang ini, mereka terkenal sendu( senang duit ) ” Huffh..tanpa bermaksud menujuk siapa, tapi yang ingin kutekankan disini, begitu mudahnya seseorang menstigma orang atau sekelompok budaya lain, padahal subjektifitas tersebut, kerapkali belum tentu kebenaranya. Bahkan, seorang stigmatis ataupun menjugde suatu hal yang lain dari ini pun, kerapkali mejilat ludahnya sendiri. Aku pribadi, termasuk tidak terlalu memedulikan hal itu, bagiku itu kurang penting. Hheheheehe. ;)

Akhirnya, kita sampai ditempat tujuan. Dengan latar tempat yang sedikit jauh dari pusat kota, jalan yang bebatuan, banyak ladang dan sawah disisi ruas jalan serta hawa yang lebih sejuk dari kota. Disana aku bertemu Ibu Euis, dia *bisa dibilang* sebagai co.assistant dari pemilik Padepokan Dayang Sumbi tersebut. Awalnya kufikir, padepokan itu tempat orang-orang mencari ilmu yang bersifat keagamaan, seperti yang sering kudengar dari televisi. Menurut temanku itu, padepokan identik dengan tempat pernikahan sirih berlangsung, seperti kasus artis penyanyi wanita yang sekarang mantan suaminya kini menjadi angota partai besar di Indonesia, sekaligus anggota legislatif DPR-RI. Untuk hal itu, aku no coment :). Bersama Bu Euis, kami diajak berkeliling perternakan ulat sutra disana. Bahkan aku melihat langsung bagaimana proses pembuatan ulat sutra menjadi sutra. Ulat sutra begitu memesona, dengan warna kulitnya yang putih, kecil, unik dan lucu. Tapi tetap saja aku geli melihatnya. Akhirnya, dengan bimbingan Bu Euis, aku memberanikan diri untuk memegangnya. Alasan sebenarnya adalah, karena aku tak mau dibandingkan dengan anak kecil( a.k.a jadi gensi donnggg) yang berani dan lihai memegang ulat sutra tersebut.
walaupun geli menyentuh ulatnya, narsis tetap menyatu;)

Selain tempat peternakan, disana juga menyediakan sarana edukatif buat anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan umum. Adanya perpustakaan mini, membantu anak-anak untuk mengetahui profil ulat sutera itu sendiri, terang Bu Euis. Buku-buku banyak disumbangkan dari lembaga profit maupun non profit, biasanya bantuan berupa buku-buku langsung atau materi lainya. Pedepokan Dayang Sumbi ini juga memberikan pelayanan wisata yang biasa disebut wisata ilmu untuk penelitian. Biasanya, menurut Bu Euis, mengenai objek penelitian ini, adalah mahasiswa yang sedang menempuh semester akhir/ skripsi.
papan nama padepokan
putih-putih, imut nan lucu..tapi geliii iiiihhh..merinding gag ilang-ilang.

Setelah aku diajak berkeliling peternakan, aku diperlihatkan kembali kesebuah tempat proses pembuatn sutera. Disana, aku melihat berbagai macam alat tenun tradisional yang terlihat sudah tua, akan tetapi menurut Bu Euis, sekalipun tua hasilnya pun maksimal walapunpun memakan waktu lama dibanding alat pemintal modern saat ini. Rasa penasaranku semakin menjadi ketika rasa keingintahuanku untuk mencoba “bagaimana sih rasanya menenun itu “. Awalnya aku gagal, dan aku ditertawakan oleh temanku itu, tapi untuk kedua kalinya aku berhasil! Yeee senangnya…:)

Pernah liat Fauji Ba’dila membawakan suatu acara jalan-jalan kan di salah satu stasiun tv swasta? Yang kuingat saat itu dia juga sedang memintal kain sutera disebuah tempat, dan saat itu aku bisa merasakanya, kupikir mudah, ternyata aku salah besar! Banyak korelasi antara otak, tangan, dan kaki yang harus kesinambungan.
ini adalah hasil pintalan yang sudah jadi, foto ini diambil sama temanku itu.

bener-bener susah ya ternyata ..hehehehe..*
bersama bu euis dan hasil pemintalan, dari ulet-ulet kecil itu.

Akhirnya, waktu zhuhur tlah tiba. Sebelum aku hendak berpamit dari sana, aku dan temanku itu menunaikan ibadah kami dulu, dekat daerah khusus penginapan. Padepokan dayang sumbi ini, selain memiliki visi misi utnuk perkembangan dan pelestarian perternakan leluhur dan wisata ilmu, juga dijadikan tempat untuk penginapan. Biasanya ni teh, kalo yang nginep disini orang-orang yang mau neliti juga, makanya dibuat penginapan, tutur Bu Euis yang kini tlah memiliki dua orang anak.

Seusai sholat, aku segera bergegas pamit untuk melanjutkan perjalanan repotaseku yang lain di daerah Bandung lainnya. Tak lupa, seraya menuju parkiran mobil, aku dan temanku kembali mengucapkan terimakasih, karena tlah dibimbing mengenai Padepokan Dayang Sumbi ini.

Mengenai makana dari padepokan,setelah kutelusuri disana Kata padepokan sendiri ternyata tidak hanya terkenal sebagai tempat publik untuk mengerahkan segala *keinginannya*- menikah sirih. Tapi benar-benar untuk dijadikan tempat tinggal, bahkan pendidikan non formal, khususnya Padepokan Dayang Sumbi ini.

Kami pun berlaju, ketempat pusat kota. Kota Bandung yang memiliki sejuta warisan kuliner yang berhawa ggrggrgghh..sejuk dan memiliki endapan koleksi para bintang muda bersinar di Indonesia- kutipan dari jurnalis infotaiment- hehehee…

benarkah?

About these ads
 

2 Responses to “Repotase-ku di Bandung”

  1. Irene Tobing Says:

    Hai… liputannya bagus & menarik… anak-anak sekolah saya juga pasti akan sangat tertarik, bisa minta tolong untuk memberikan saya no. telp Padepokan Dayang Sumbi?

    Best regards, Irene

    • deejourney Says:

      terimaksih atas perhatian membaca blok ku..
      tempat ini memang sangat edukatif cocok pelajar anak2 maupum umum..bisa di hub melalui

      Dedi Agus Wirantoro
      HP:
      022 – 9112 7718 (Esia)
      0815 602 0902


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.