deeJourney

Just only deejorney.wordpress.com

LOWEST POINT IN LIFE- Titik terendah dalam hidupku October 19, 2009

Filed under: think of me — deejourney @ 2:21 am

Setiap orang yang hidup selalu akan merasa seperti ini; MENEMUKAN TITIK DIMANA TIDAK LAGI DAPAT BERKATA APAPUN!
Titik yang amat sukar sekali digamblang – kan secara jelas, dan hanya bisa dirasakan. Jenuh, suntuk, merasa diabaikan, marah, kesal, serba sensi, serba salah, Membuat diri kita terkadang tergoda terhadap instabilitas mood, semangat dan kelurusan visi, dan sekeribet perasaan negatif lainnya. Begitu yang pernah saya dengar. Titik terendah dalam hidup.

Insensitive jerk!

sangat tidak enak sekali rasanya. Berkali kali saya selalu mendapat “pujian”__dee, kenapa dilepas? sayang- tauk! udah ngedapetinya susah, ehh dilepas gtu ajah.., Terus sekarang lu kuliah dimana?–Semakin bertambah ajah pengangguran di Indonesia yaa? suma lu gimana? Acara kemaren batal dong, –ngapain lo nanya kapan gua lulus? lu ajah belom kuliah! kamu tuh sekarang gimana sii? kok gitu seh lu dee, kalo gua jadi lo gua bakal..lagian sih lo begini begitu. terus rencana berikutnya apa dee, sabar yaa dee, seharusnya lu…bla..bla..bla..

Dan segala macam rentetan nyanyian yang begitu indah di telinga saya saat ini. Ada perasaan ” saya merasa tidak berguna “, suntuk, sumpek, dan kejenuhan tingkat tinggi dalam kondisi hidup saya saat ini. Saya sangat merindukan masa-masa dimana waktu saya masih kuliah dulu, cari tugas, gosipin dosen, capek karena lari-lari mengejar bikun karena telat masuk kelas atau keenakan ngeliput kesal karena ditolak terus atas referensi tugas yang saya dapatkan, rindu tempat kos-an, iri melihat teman seangkatan pusing karena kuliah ( lebih baik daripada saya, pusing karena tidak melakukan apa-apa yang bermanafaat ) SAKIIT SEKALI. Aku cemburu! Ya, saya cemburu.

Ketika tahu proposal hidup saya di tolak oleh-Nya, rasa kecewa kian menjadi. Awal dari paragrafku pun tak disetujuiNya. Saya mengerti, kita tidak boleh mengeluh, mungkin ada jalan lain yang Allah rencanankan, dont be sad! tapi, saya tetap manusia biasa. Saya tidak ingin menafikan hal yang saat ini saya rasakan. Saya mungkin mengelak, membela, menutupi keadaan sebenarnya pada orang-orang terdekat, tapi tidak dengan hati. Saya memutuskan pergi dari zona nyaman itu dan saya merindukannya? sangat klasik sekali, bukan?

Saya memutuskan keluar dari jurusan di sebuah universitas ternama. Bukan karena saya tidak mampu menjalaninya, tapi hati saya terus bergejolak. Awalnya saya yakin saya kan menang, tapi keyakinan tersebut semakin lama semakin menyurut dengan derasnya kenyataan bahwa saya tidak diterima lagi di jurusan yang saya pilih. Keinginan saya untuk lulus sebagai mahasiswa baru lagi di universitas tersebut kian kandas dan tenggelam. Saya larut. Dan tidak tahu lagi mau kemana. Lalu, ada secercah semangat. Saya masih memiliki satu kesempatan lagi di tahun depan, dan aku ingin mencobanya. Dan sekarang pun sedang dalam proses persiapan ( dan lagi-lagi ini terjadi, menjadi siswa sebuah bimbingan belajar persiapan masuk perguruan tinggi negeri untuk ketiga kalinya! ) kadang saya berfikir, seandainya nii bimbel punya perguruan tinggi mungkin saya akan jadi mahasiswa pertama yang daftar dan berbeasiswa- ya, saya sudah sangat hampir hafal sekali bentuk soalnya- Tapi mudah-mudahan saja tidak. Dan saya pun tidak mau. Saya hanya bercanda, kok.

Saya malu pada keluargaku, karena sebagai anak, saya belum bisa membanggakan apapun. Hanya awalan saja, ketika terakhir namaku tercatum sebagai mahasiswa yang diterima di salah satu perguruan tinggi negeri begitu bangganya mereka. Sebelumnya saya pikir inilah jalanku, saya tlah buat segala macam rencana target dan strategi yang akan saya perjuangkan dan pertahankan. Tapi ternyata….ada perasan berkecamuk, bukan disini tempatku, saat akau masih bingung dalam keadaan pilihan tersebut, ternyata Allah memberikan suatu jalan untuk memilih salah satu diantara keduannya. Dan ketika saya mencoba mengikutinya ditahun berikutnya, dengan segala kepercayaan diri, ternyata saya belum berhasil, dan pengorbanan semester lalu yang kukorbankan membuatku menyesal. Membuatku sakit dan mengiris hati ketika harus menjawab pertanyaan diatas tersebut.

Saya masi muda, pikir saya. Dan saya bisa melakukan apa saja. bathin saya menjawab. Ayo temukan, temukan! nurani saya berteriak. Move on!
Waktu yang saya miliki begitu luang, tapi saya merasa banyak waktu yang saya sia-sia kan. Awalnya saya fikir, saya akan memulai dengan mengikuti les musik. Mengembangkan bakat saya yang sempat terpedam sekian lama. Namun, orang tua saya, tipe Yess Man! iyaa..iyaa enggak enggak!
. Saya butuh penyegaran. Keseimbangan dalam hidup saya. Saya ingin dilibatkan dan terlibat, saya ingin berguna untuk orang lain begitu jiwa saya memanggil.

Bahkan, saya pun iri dengan orang terdekat saya saat ini, pacar saya begitu energik. Dia memiliki waktu yang bisa ia bagi dengan efektif, tanpa harus meninggalkan satu atau banyak hal dari waktu yang ia jalani sendiri. Dia bisa melakukan apa yang dia bisa lakukan. Pekerjaannya, keluarganya, organisasinya, kuliahnya dan hubungan nya dengan saya. Bukan berarti saya bilang, dia tidak menemukan masalah disana dan semua terlihat over all good, tapi setidaknya, dengan begitu ia bisa jauh lebih berkembang dibanding saya. Jika kamu bilang bahwa seharusnya saya tidak berfikir seperti itu, memang seharusnya, seharusnya hal itu bisa dilakukan sama-sama, dia berkembang, apalagi saya. tapi yang saya rasakan, saya insecure, saya iri, saya sedih, saya rindu. Dia pernah bilang pada saya, ketika ia sedang mentoring dengan salah satu mentor kami, dia mengatakan bahwa, ketika kita sedang merasa (seperti apa yang saya rasakan-titik terendah dalam hidup) mungkin kita perlu tinjau kembali hubungan kita dengan sang pencipta. Mungkin itu adalah akarnya. Sejauh ini dia selalu membantu saya, memotivasi saya, tidak membuat saya jauh lebih depressed dan saya suka itu. Tapi tetap saja perasaan itu tetap ada. Apalagi, seperti saat ini, saya jadi lebih sensi, mudah cemburu. Yang saya tahu, saya bukAn tipe wanita yang mudah untuk mencemburui sesuatu hal. Bagi saya masih ada hal yang lebih penting dari hal tersebut. OK, saya ralat, cemburu itu penting-begitu kutipan kata dari pacar saya- tapi cemburu yang seperti apa, pikir saya. Anehnya, saya cemburu dengannya, sesuatu yang abstrak, tidak ada bukti, bisa dibilang cemburu buta. Bahkan bisa cemburu dengan semua kegiatannya? Oh my God, seperti tidak ada kerjaan lain saja diriku ini..hahhahaha🙂

Seorang senior dalam notes nya di suatu jejaringan sosial menulis seperti ini ” Layaknya sebuah kurva sinus dalam kurva trigonometri, dimana naik turun adalah sesuatu yang sangat habitually. Memang ada saat di mana kita mungkin merasa jenuh dalam rutinitas kehidupan kita. Stuck in reverse. Hanya mengalami perputaran yang sangat lambat. Kita melihat dunia di sekitar kita melakuakan gerakan-gerakan yang cepat,secepat mobil balap. Sedangkan, kehidupan kita mengalami stagnansi. Ketika ingin bergerak cepat, yang terjadi adalah merangkak demi mencapai tujuan hidup pribadi. Terasa langkah kaki kehidupan berat untuk terayuh. Terbebani. Namun kadang kita sendiri tidak menyadari beban itu, atau kita yang berpura-pura menikmati beban itu. Atau malah acuh tak acuh dengan stagnansi hidup. Bersyukurlah karena kita memang manusia, yang diberi kelebihan selain kelebihan rasa sombong yang mungkin masih saja menggerogoti potensi kita. Yaitu adanya perangkat ajaib yang dijejalkan dalam kepala kita, otak. ”
Kalimat tersebut benar-benar menyentuh hati saya, seakan saya harus tetap berjalan, dan terus berjalan apapaun pilihan hidup yang tlah kita pilih. Dan ketika saya mengalami hal ini, mungkin jalan terbaiknya adalah diam. Diam disini bukan berati tidak melakukan apapun, berjalan apa adanya dan seadannya. Bukan itu yang pasti yang dimaksud adalah merenungkan kembali perjalan hidup saya atau kita semua, meninjau kembali hubungan kita dengan sang pencipta, seperti yang tlah saya uraikan diatas. Dalam notes seorang teman saya itu pun berkata ” Lalu kita manfaatkan otak kita tadi untuk melakukan suatu momen. Momen yang sangat memungkin menghadirkan segala hal yang menyegarkan hati. Momen sederhana, tapi berdampak luar biasa.” Mengistirahatkan fungsi otak kita selama ini. Mungkin ini adalah masa rehatku selama ini, dan sepertinya dan selalu Allah tahu apa yang aku butuhkan. Mem pause-kan diriku sejenak.
Tidak perlu terlalu lama, yang terpenting efektif. Seperti itu.

Dan saat ini saya ingin kembali menemukan titik cerah diriku sendiri, melakukan suatu yang bisa membuatku kembali bergairah dalam hidup. Saya sedang mencari lowongan partime untuk menambah uang bimbel yang masih kurang. Kenapa saya tidak minta pada orangtua? Jujur, saya malas untuk memintanya. Ribet dan aaahh sudahlahh..lebih baik saya cari sendiri sisanya dan mungkin saya akan menemukan titik puncak kembali hidup saya nanti.

Satu hal yang saya mengerti, mencari pekerjaan itu susah, apalagi hanya berbekal ijasah SMA…

dalam otak saya, saya harus mendapatkanya lagi, menciptakan standar setingi-tinggi nya, seperti yang di ungkapkan oleh pak Mario Teguh dalam notesnya yang berbunyi “ Anda harus menetapkan standar kualitas untuk yang dapat Anda terima dalam karir dan kehidupan pribadi Anda.

Jika tidak, Anda akan sering diharuskan menerima apa adanya., Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.

Mengupayakan tercapainya yang terbaik, adalah sikap orang yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada dirinya, untuk mencapai yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, dan bagi sebanyak-mungkin orang lain.” Saya sangat suka sekali denagn kalimat pak Mario Teguh seperti itu. Menetapkan standar. Jika saya menambahkan, menyesuaikan diri dengan standar yang ingin kita pilih, dan mengespertasikan diri kita untuk dapat mencapainya.

Ini standar jangka pendekku dalam jangka waktu lima atau enam tahun kedepan, jadi mabaUI lagi 2010, dan saya mau study abroad S2 di Universitas Leipzig Law for the protection of minors and for the criminal law of the media, Germany.

Saya harap, siapapun kalian, kenal atau tidaknya dengan saya. Kita sama sama mendoakan, agar bisa menjalan kan proposal hidup kita masing-masing dan kembali di approve-Nya lagi. Amin

DianPramashanti#

 

One Response to “LOWEST POINT IN LIFE- Titik terendah dalam hidupku”

  1. The dreamer.. Says:

    Very attractive women, the proposal a title of lives very far from my conscious, and very genius for a young woman wrote and asked about her life, when I was your age I was also asked about this.
    I have a story the way of life, after I completed school, I would like once in indonesia University, although I realize I am just a very stubborn boy and not clever to. But reality says another, good luck on my side. I can only welcome in Indonesian university on diploma program, yes I realized it was more than enough for the gift i haved, because I realized in my school time, my civilization not with them often all the time read the book and hardly to learn.
    Guess what, in the course of time I became the visioner about the life. I like people who have a mark as a smart person, and I feel smarter, after I completing my diploma I received back in FEUI, my fantasy to live a longer earn a master’s program.
    But reality my plan broke up, my study period only three semesters less messy, my status drop out because there is no cost, I’m not lazy, thousands of job applications I sent but this time my luck away from me. My feeling devastated accept this reality.
    But now i enjoy with my live,
    There’s another life waiting for me, in my life journey I explore the different spaces, at the moment I enjoy working for myself, to society, for nation and state. Yes I am a free fall in the middle of the agricultural community in a peaceful and beautiful mountains. In essence I was told it is sometimes only a few proposals of life expectancy are not as planned, but now we can understand the meaning of life the way we are going to open despite limping. Remains a strong woman and realize your dreams.
    You’ll never walks alone..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s