deeJourney

Just only deejorney.wordpress.com

The book of Eli, penyampaian pesan agama di tengah perang. April 30, 2010

Filed under: think of me — deejourney @ 5:25 am

Al Qur’an bersanding dengan Alkitab bersama deretan buku-buku suci yang lain di sebuah perpustakaan, itulah adegan terakhir dari The Book of Eli, film hasil rumah produksi Warner Bross. Sebuah perpustakaan yang dirintis setelah kehancuran sebuah peradaban manusia karena perang besar. Perang yang meluluhlantakkan seisi bumi sehingga air menjadi barang yang mahal dan bumi tidak terlindungi dari sinar matahari. Semua orang harus mengenakan kaca mata jika tidak ingin menjadi buta.

Tiga puluh menit awal adegan film yang dibintangi Denzel Washington dan Gary Oldman ini terasa begitu membosankan. Nuansa kering, gersang dan aroma penuh warna kematian begitu mendominasi. Mulanya saya berpikir, ini mungkin film jenis thriller. Duduk terasa sudah kurang nyaman, namun sayang jika meninggalkan kursi karena sudah bayar mahal. Menjadi agak menarik ketika sang jagoan mulai menunjukkan aksinya. Seperti lazimnya tokoh-tokoh heroik ala amerika, sang lakon main babat, tebas dan bunuh tanpa luka sedikitpun. Sampai separoh waktu tayang, saya masih belum menangkap alur cerita yang disajikan. Mencoba menghubungkan dengan judulnya “The Book of Eli” saya berpikir mungkin ini sebuah biografi fiktif kehidupan sesosok jagoan di kampung berandalan ala Bronx.

Satu per satu rangkaian logika dibangun dari setiap percakapan dan adegan dalam film. Nuansa kematian di pembuka film ternyata merupakan suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat perang besar tiga puluh tahun sebelumnya. Cerita langit yang berlubang mungkin merupakan pengandaian atas hilangnya lapisan ozon akibat perang nuklir. Manusia menjadi mudah terpapar radiasi sinar matahari sehingga terus menerus memakai kaca mata dan menjadi lebih tua dari yang sebenarnya. Barang-barang yang ada pada zaman sekarang seperti shampoo, air, korek api dan buku menjadi barang langka. Manusia tidak bisa membaca dan menulis serta tidak mengenal Tuhan. Perang besar yang mematikan peradaban, itulah setting yang dibangun. Orang-orang dan kehidupan purba pada zaman setelah modern (era nuklir).

Teringat dengan film 2012, film yang diproduseri Joel Silver, Susan Downey, Andrew Kosove, Broderick Johnson, dan Denzel Washington ini juga menyajikan hancurnya sebuah peradaban, atau sebutlah kiamat. Bedanya, film 2012 menempatkan alam sebagai penyebab kehancuran, sementara film besutan sutradara Albert Hughes dan Allen Hughes ini menempatkan fanatiisme beragama yang sempit sebagai penyebab kehancuran. Penonton digiring secara perlahan bagaimana orang atheis menggunakan kitab suci sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadinya lewat tokoh Carnegie (Gary Oldman).

“Dahulu buku itu pernah berhasil, dan sekarang pun akan berhasil”.

Itulah keyakinan Carnegie yang mendorong perilakunya untuk mencari sebuah buku. Menggunakan anak gundiknya, Solara yang diperankan oleh Mila Kunis, untuk merayu Eli. Carnegie berharap dengan takluknya Eli, ia dapat menguasai dan menggunakan buku yang dibawanya untuk menguasai orang lain.

Kalimat itu pula yang mendasari perempuan simpanan Carnegie untuk mencari buku yang sama. Bedanya, Carnegie berusaha menggunakan pengetahuan akan buku dimaksud untuk memperalat orang lain, sementara sang gundik yang terpaksa mau jadi gundik mencari buku karena memang merindukan ayat-ayat Tuhan.

Eli, sang pembawa buku, mungkin sosok nabi di masa depan. Ia mendapat amanah untuk membawa buku tersebut ke barat, suatu tempat yang layak untuk menerima kabar gembira yang ada di buku. Orang di barat bukanlah orang-orang Carnegie, tetapi orang-orang dari zaman sekarang yang selamat dari kehancuran dunia. Orang-orang di barat mengenal Tuhan, tetapi tidak menemukan buku yang menuntun mereka untuk mengingat Tuhan karena semua sudah dimusnahkan pada saat perang. Buku-buku suci tersebut dimusnahkan karena menjadi penyebab perang. Namun buku-buku tersebut juga dicari karena dari buku itulah perang dapat dihindari.

Meski harus membunuh dan menggunakan pedang, kebaikan dalam buku itu harus sampai kepada tangan yang berhak. Itulah prinsip hidup Eli. Ia harus menghadapi apa pun yang menghalangi jalannya. Dan Eli yakin, ia akan menang karena Tuhan di pihaknya. Sampai menjelang akhir hayatnya karena ditembak Carnegie, Eli sadar bahwa selama ini ia hanya mempertahankan buku dan membacanya namun tidak menghayati serta mengamalkan pesan yang ada di buku.

Begitulah pesan dan kesan saya atas sepanjang 117 menit durasi film The Book of Eli. Meski secara kualitas, film tersebut biasa-biasa saja bahkan kadang banyak hal yang terlalu didramatisir, namun sarat pesan tersirat yang penuh paradox dan kontradiksi. Tentu saja semua akan diserahkan kembali pada penilaian pemirsa, terlepas dari konteks pembuat film yang menempatkan Alkitab sebagai buku yang sangat dicari dan diperebutkan. Mungkin jika si pembuat orang Indonesia, maka Alkitab akan diganti dengan Al Qur’an sebagai The Book Of Eli.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s