deeJourney

Just only deejorney.wordpress.com

and Finally, I said ” YES I WILL MARRIAGE WITH YOU” March 28, 2011

Filed under: think of me — deejourney @ 2:18 pm

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman bercerita pada saya bahwa dia akan segera menikah akhir tahun ini. Sebagai seorang teman yang sudah lama tak jumpa lagi dengannya dan hubungan saya dengan dia dapat dikatakan dekat, saya jelas terkejut setelah dia mengatakan hal tersebut. Sempat bengong sesaat untuk memastikan bahwa saya menanggapinya tidak main-main. Dan dia berkata “ HEH Dee, masa kaya ginian gue main-main, sih?” dan saya cuma berkata dalam hati “ Iya juga sih, dia kalo beginian ogah untuk ga serius, walaupun nadanya kayaknya keliahatan ga cukup meyakinkan, hehehe”. Oke sebelum berlanjut ke intinnya tulisan ini, saya mau prolog dulu sedikit tentang dia.

Awal pertemuan kami adalah di KOST MAHARANI, Kober, Depok Jawa Barat. Kostan yang cukup megah dan mewah untuk ukuran anak kostan. Namun sayang, sebelah kostan tersebut terdapat pemakaman umum (namanya aja KOBER yang artinya kuburan, ga heran kalo ternyata masih ada beberapa kuburan disini, iiiyyy), dan bagi yang baru tinggal di jamin ga bisa tidur semalaman, tapi itu ga berlangsung lama kok cukup buat perkenalan semalam saja dengan penghuni lainnya (???). Lah, saya mau describe tentang kostan kami dulu atau teman saya itu yah? J Oke lanjut ya, saya merasa bahwa kita memang cukup dekat, teman sejawat, seangkatan, teman saat susah sewaktu awal perkuliahan dulu apalagi saat saat masa OSPEK berlangsung. Walaupun jurusan kami berbeda, saya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya saat itu dan dia D3 Pendidikan Kesekretaris FISIP, hal itu tidak membuat kami tidak untuk saling bertemu. Karakternya yang selalu ceria dan sangat ekspresif kalo sedang bercerita membuat kami dekat, kami akhirnya cukup mudah untuk saling mengenal. Hobinya yang selalu senang mendengar musik berkatagori keras, seperti rock and roll, rock dan blues, hmm ya seperti contohnya Simple Plain, The killers, Swithcfoot, Paramore dll itu tidak membuat pribadinya sekeras selera musiknya (dalam kasus ini, ternyata penelitian mengenai musik bisa memengaruhi kepribadian gak berlaku buat dia kayannya :P). Selama kurang lebih hampir 5 bulan secara intens kami tinggal bersama, nyari makan bersama, nyanyi dikala jenuh dengan tugas yang menumpuk deras, melakukan curhat-curhatan (FYI, kegiatan yang ga pernah absen dilakukan para cewek kalo lagi ngobrol, hihihii ) sampe minta tolong untuk temenin buang air kecil di kamar mandi sendiri (gak tau kenapa hal ini suka benget dilakukan, selama berada di kostan tersebut J). Setelah waktu itu berlalu kami berpisah tempat tinggal dikarenakan tempat kami tinggal dulu terlalu mewah dalam katagori hanya sekadar ‘taro kepala untuk istirahat” selain dari faktor utama juga sih => cukup buat bikin kantong kering bagi ukuran MABA saat itu. Lama tidak jumpa lagi karena kesibukkan kita berbeda, hampir 3 tahun, akhirnya kita ketemu lagi dan ngobrol lagi. Dia yang sedang bimbingan tugas akhir nya, dan saya yang masih berkelut sebagai mahasiswa dan masih harus menempuh sejumlah sks lagi untuk lulus. Di momen itulah dia bercerita tentang pernikahannya itu.

Sudah 3 tahun dia menjalin hubungan serius dengan pasangannya. Awal komitmen dari hubungan pun juga di desain untuk mengarah kesana, wajarlah, si pasanganya cukup berumur dan jarak umurnya cukup lumayan jauh dan untuk saat ini pun memang sudah di katagorikan cukup matang untuk membina hubungan lebih serius dari sekadar pacaran. Iseng saya tanya sama dia “ Lo udah siap kan?” dan dia jawab “ Yah, siap ga siap harus siap,dee” Lalu kemudian saya bertanya kembali “ Lo mau merit emang karena mau merit kan” sambil merendahkan suara agar terkesan pertanyaan ini dasar banget namun serius buat dia. Dan ternyata jawabannya membuat saya lebih kaget lagi dibanding yang pertama “Yah, sebenarnya, sih gue merit karena gue kasian sama dia. Dia udah cukup tua dee, lo tau kan gue ama dia nyaris perbedaan umurnya 10 tahun dan gue juga capek ditanya kapan meritnya terus dari pihak keluargannya. Jenuh gak sih lo, kalo itu berlangsung selama satu tahun terakhir ini dalam hidup lo? “. And which is above must to be underlined, check this guys KASIHAN, CAPEK and the most important here is JENUH. And you know what, MIRIS banget ga sih kalo alasan dasarnya begitu. Setelah mendengar jawabannya saya jadi mikir bahwa pernikahan itu ternyata butuh banyak persiapan, baik secara finansial, moril serta mental yang kuat. Tidak hanya kesiapan itu datang dari satu pihak saja melainkan dari kedua belah pihak. Kalo dasar pembentukan pernikahan saja sudah ada rasa iba karena kasihan si pasangan sudah cukup tua (biological time period was already ring..ring maybe :P) capek terus-terusan ditanya camer sampai akhirnya menyerah pada kejenuhan pertanyaan dengan mengatakan YES, I DO! Yang ada di kepala saya saat itu adalah => apakah hal itu yang akan menjadi pegangan disaat hubungan lagi sedang tidak harmonis? iya jika rasa iba itu trnyata long lasting, tapi jika hal itu akan semakin luntur sejalan dengan perubahan sikap after merit (tidak perlu ditutupin lagi kali ya, bahwa perbedaan itu pasti ada sebelum dan sesudah menikah) siapa coba yang mau jamin hal tersebut akan bertahan lama. Padahal perasaan cinta saja bisa surut oleh waktu apa lagi hanya bermodal KASIHAN??

Beberapa teman saya yang tentunnya sudah menikah baik yang seumuran bahkan yang lebih tua dari saya, selalu mempunyai alasan mengapa akhirnya dia memutuskan untuk menerima lamaran dan menikah dengan pasangannya. Kebanyakan dari jawaban mereka adalah faktanya semua itu karena factor luar yang mengkondisikan mereka untuk menjadi factor dalam yang pada akhirnya mereka yakini benar walaupun belum tentu –kalo ditanya lagi, nih- mereka bener-bener setuju, loh. Contoh alasan nya seperti, kaya tadi masalah umur, masalah jam biologis yang terus berputar, capek di tanya terus, tidak merasa enak dengan orangtua dengan pilihan hidupnya sendiri, agama(untuk yang ini bahasannya di bawah) sampai perkawinan politik (Kasihan yah, mau nikah aja banyak unsur campur tangan dari kepentingan sampingannya, menyedihkan!) Memang sih ada ada beberapa yang memiliki dasar alasan yang kuat karena dilandasi oleh hal yang bukan bermodal abstark saja, yakni KOMITMEN PENUH SECARA SADAR bukan hanya diucapkan didepan penghulu saja, namun terpatri dalam pikiran dan diyakini secara hati.

Menurut saya tidak fair rasanya jika kita menikah CUMA hanya bedasarkan umur. Apalagi adanya paksaan dari pihak luar untuk menyegerakan pernikahan kita. Tidak bisa di bayangkan, deh apa jadinya pernikahan yang dari awal dibangun bedasarkan rasa tidak enak kita pada sesuatu atau orang lain, gampangnya hanya untuk menyenangkan hati orang terdekat kita. Hei padahal yang menjalankan hidup kita adalah kita. Dan hal yang menyangkut pernikahan adalah kita berdua bersama pasangan (kalo kalian lebih suka di urus sama oranglain selain kalian berdua sih, ga masalah). Ditambah, di negara kita punya budaya menikahkan dua orang manusia sama saja menikahkan 2 keluarga dan unsur-unsur lainnya, belum lagi paradigma kita, mengadakan sebuah pesta pernikahan sama saja harus memberikan makan banyak orang di acara tersebut dan berharap feedback yang lumayan buat menutupi modal (Ayo..ayo ga usah nutupin, saya sudah dua kali menangani event pernikahan keluarga, dan basic generallynya itu, hihhii) padahal nih, seberapa banyak sih yang bener-bener kita kenal di acara kita itu?? Paling juga tamu-tamu si papah-mamah juga. Saya juga tidak menyalahkan hal tersebut, namanya juga tradisi, dan kita hidup di budaya itu. It’s Ok, during that isn’t made the new problems in next day. Tidak ada salahnya sih minta bantuan kepada saudara saudara kita yang lebih berpengalaman, but remember just to help for suggest not more do anything in both of us. Keputusan menikah didasari oleh 2 orang, bukan hanya si pihak perempuan saja atau pihak mempelai prianya saja. It has need the couples to fix it, its only two people. Menyangkut pernikahan itu berarti menyangkut hati, selain hati menyangkut pula masa depan dan komitmen yang tadi sudah disinggung. Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang memang secara sadar diinginkan oleh kedua belah pihak yang di lanjuti dengan restu kedua orang tua bedasarkan rahmat yang di beri Tuhan oleh hubungan tersebut. Kalo kamu berfikir saya sok tahu, saya justru akan membenarkan itu. Saya memang belum pernah menikah, dan jujur saya juga tidak mengetahui persis kehidupan setelah pernikahan berlangsung itu seperti apa, saya senang meneliti sesuatu yang saya fikir akan berguna bagi masa depan saya. Ini bedasarkan beberapa obesrvasi yang secara langsung maupun tidak langsung yang saya lakukan dengan berbagai artikel pernikahan dan kaitannya serta pengamantan saya secara diam-diam🙂. So, ini bukan mutlak kebenaran dari suatu tulisan saya, but its just my view.

Tulisan ini saya buat untuk para wanita yang akan menikah dan pria yang menikahi wanitannya. Jangan terlalu memaksakan ego kita dan orang lain untuk sebuah pernikahan. Jika ternyata kita belum terlalu siap untuk menghadapi hal itu. Hargailah proses tumbuh kembang pasangan kita, bukan salah kita menjalin hubungan dengan yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Permasalahanya adalah kita tidak pernah tahu kan isi hati sebenarnya pasangan kita jika didasari oleh “emang udah waktunya gue musti kawin” dan “karena iri melihat teman sudah beranak satu”.

Khusus untuk para bujang, saya kira tidak ada salahnya berbicara dari hati ke hati dengan pasangan kita secara jujur apa yang benar-benar diinginkan dalam suatu pernikahan, sebelum akhirnya menjalaninya. Agar kedepannya, keinginan kalian itu adalah murni dari kalian, dan komitmen yang dijalani juga di jalankan berdua karena dibuat berdua jadi risiko & permasalahannya jika terjadi di tanggung berdua juga. Saya pun juga mengerti sebagian dari kaum kalian ini menginginkan pernikahan juga karena kebutuhan biologis dan keturunan, tapi geserlah sedikit paradigama tersebut, bahwa sebenarnya menjalin hubungan pernikahan tidak hanya sekadar hasrat seperti itu saja. Dalam sebuah keluarga memang harus ada anak, biar kebutuhan berbagi cinta kalian mengalir kepada anak-anak kalian, tapi tidak harus memaksakan semua harus berasal dari keturunan anda kan? Anda tetap harus mempunyai anak, Sekalipun itu adalah anak adopsi. Anda harus benar-benar mencintai pasangan anda tidak lebih dari Tuhan dan lebih dari siapapun yang pernah anda temui dalam hidup anda (kecuali Ibu) serta berkomitmenlah untuk saling membangun sebuah hubungan yang long lasting. Dan ingat juga bukan karena umur anda harus sudah menikah, terlebih jika pasangan jauh lebih muda dan mungkin masih memilki hasrat untuk menjalankan mimpinnya sebelum akhirnya menikah. Saya tidak bilang bahwa pernikahan adalah penjara bagi kaum wanita muda, namun bagi perempuan (saya beritahu alasan sebenarnya) yang masih ingin melanjutkan/menyelesaikan studi dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan mimpinya atau paling tidak bisa menghidupi dirinya sendiri adalah tantangan jaman yang menuntutnya seperti itu. Percaya deh, bahwa setiap wanita memang menginginkan pernikahan ala dongeng dongeng yang pernah mereka dengar sewaktu mereka kecil, dengan seorang pria yang mereka cintai yang bersedia melamarnya dan ia menunggunya dengan akhir yang bahagia (hampir semua dongeng sebelum tidur menceritakan seperti itu kan, wajar menagapa perempuan meninginkan lebih disayangi dan diperhatikan oleh pasangannya) seakan semua usaha penyatuan hanya dilakukan oleh sang pria nya dan membuat wanita benar-benar merasa di inginkan. itu dulu. (tapi bagian agar selalu merasa di inginkannya, masih tetep sama dari dulu hingga saat ini, be a princess is a big dream everywoman)

Realita saat ini memaksa mereka untuk harus berkontribusi terhadap kehidupannya sendiri (paling tidak ya) yang tidak hanya bisa menangguhkan tangan terbuka menunggu gaji bulanan sang suami (Lain cerita yah kalo memang suaminnya pewaris tahta Inggris, misalnya. Itu sih ga perlu di bahas lagi.) Kita memang tidak pernah tahu kehidupan nantinnya seperti apa, namun antisipasi dari hari ini adalah penting bagi kebanyakan perempuan jaman sekarang di tambah makna pekerjaan bukan lagi hanya sebagai pemenuhan kebutuhan primer, namun kini sudah menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri dan perkembangan karakter setiap individu. Sama seperti kalian para pria saat masih berumur 20an, kalian pun juga tidak ingin segera menikah kan? Apalagi dengan kondisi finansial kalian di umur segitu (Saya tidak membicarakan kejadian yang mikro yah, kita ngomongin hal yang kebanyakan pria lakukan di usia segitu). Lalu, ego kalian di usia segitu pun adalah menantang untuk mengejar karir yang kalian inginkan, sampai pada satu titik dimana kalian merasa, -paling tidak- It’s enough for me to getting marriage and its perfect time for have happy familly. Lantas apakah kalian akan memaksa mereka untuk meninggalakan semua mimpi-mimpi mereka juga? Kalo iya, sayang sekali saya katakan “ Who is the egocentric people?” Saya paham kalau diantara kalian akan berkata, kondisi keuangan saya cukup untuk memenuhi kebutuhan kehidupan setelah menikah bersama istri saya nanti. Iya saya sangat mengerti sekali maksud anda para lelaki, Namun coba deh berpikir begini jika sang istri masih ingin melanjutkan studi nya apakah kalian sanggup untuk memenuhi semua itu sampai impian studi nya tercapai?* (kalo ternyata orang tua nya masih mau membiayai studinya sih ga masalah, tap kalo pun iya, malu ga sih kalian sebagai laki-laki yang berani mengajak pasangan kalian untuk berumah tangga masih di bantu orang tua???) Jika sang calon istri ingin melanjutkan hingga S2, bagaimana? Jika kalian mampu untuk juga membiayai pendidikan calon istri, itu sih bukan soal. Nah, jika itu terjadi diluar kendali kita. Jangan sampai deh setelah menikah ada kalimat seperti ini “Buat makan ajah pas-pasan apalagi buat melanjutkan pendidikan” Ingat jika kalian sudah memiliki istri, tanggungan kalian terhadap istri bukan saja memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi juga segala kebutuhan yang mungkin bukan jadi prioritas bagi kalian para calon suami, tetapi penting sekali bagi calon istri. Tapi kan semua itu bisa di jalani di dalam pernikahan? YUP!! sekali lagi anda benar, bisa di jalani beriringan jika kalian belum memiliki seorang anak dalam waktu dekat setelah kalian resmi. FYI, bahwa perempuan itu akan rela meninggalkan impian dan ambisinya ketika akhirnya dia telah menjadi seorang Ibu. Hormon progesteron mereka meningkat seiring dengan keinginan mereka menjadi ibu seutuhnya dibanding lelaki dengan perubahan hormon pria untuk menjadi seorang ayah. Mereka akan lebih menyayangi anak mereka terlebih diri mereka sendiri. Semua dunia bagaikan autis jika menyangkut anak. Semua akan dilakukan demi kenyamanan si anak. Semua akan di tinggalkan demi pertumbuhan anak secara maksimal. Disini saya bukan menulis untuk mengatakan bahwa menjadi ibu konotasinya jadi tidak baik, justru saya menjelaskan kepada kalian calon suami dan ayah bahwa inilah pengorbanan seorang wanita ketika menikah dan punya anak. Mereka rela meninggalkan apa saja yang mereka inginkan sewaktu belum menikah dulu demi keharmonisan keluarga, demi kalian para calon suami dan anak-anak yang akan kalian miliki. Semua hal jika di kaitkan terus dengan logika kalian itu, memang terkesan mudah di jalani namun kenyataannya tidak semudah yang kalian pikir. Persoalan hati dan hormonal seringkali lebih rumit di bandingkan dengan logika sekalipun. Sekarang saya tanya balik, apakah ketika kalian menjadi ayah rela meninggalkan pekerjaan dan ambisi kalian demi seorang manusia kecil yang menginginkan kehadirannya selalu di nantikan oleh kalian para calon ayah? Seperti hal nya yang dilakukan oleh ibu kalian sewaktu kalian masih kecil hanya untuk memastikan bahwa kalian aman dan nyaman selama 24 jam/hari? Lalu apakah kalian akan menjamin tidak akan pernah keluar dari mulut manis kalian kalimat “ Sudah biar saya saja yang bekerja, kamu dirumah mengurus anak kita saja” lalu bagaimana dengan ijasah perguruan tinggi mereka yang di peroleh dengan menangis bombay di depan dosen pembimbing sewaktu mereka meraihnya, dengan ilmu yang pasangan kalian peroleh sewaktu mereka kuliah dulu? Dan bagaimana dengan keinginan pasangan kalian untuk tetap bertumbung dan berkembang di setiap kehidupannya yang mungkin sebagian berada disana? Mungkin ada dalam benak kalian mengatakan, saya melakukannya sebagaimana para pria melakukan hal yang sama seperti itu, dengan giat bekerja lebih keras & tidak melewatkan peluang-peluang yang bisa menghasilkan pundi-pundi emas. Yeah, It’s about logic reason from mars. Cobalah memahami hal itu terlebih dahulu dari sudut yang bebeda. Kalau dipikir pikir dengan logika juga, ini pun juga buat kehidupan berumah tangga kalian agar menjadi semakin baik, loh, tanpa menanggalkan komunikasi yang maksimal bagi hubunggan kalian berdua di dalam pernikahan. So, jangan memaksa pasangan kalian untuk bersedia menikah dengan kalian hanya karena ego kalian sebagai pria dewasa yang cukup umur serta rongrongan orangtua yang menginginkan cucu dari kalian (FYI, perempuan tahu kok, kapan saatnya dia harus memilih, dan tenang saja, keluarga adalah prioritas utama mereka). Dan ini penting, sering kali kalian membawa agama sebagai alasan kalian untuk menikahi perempuan. Memang menikah adalah memenuhi separuh din / agama menurut kepercayaan agama yang saya anut. Kalian mungkin terbiasa dengan doktrin “Jangan sekali-kali kalian (perempuan) menolak lamaran dari seorang pria yang baik agamanya, barangkali dia yang terbaik” kurang lebih makna yang saya tarik seperti itu. Kalian tahu, kadang kalian membawa sepenggal makna ayat ini untuk melamar calon istri, yang sebenarnya membuat pilihan untuk tidak ada pilihan lain. Agama berperan disini adalah sebagai pendukung hubungan kalian yang memang benar-benar di luar paksaan siapapun dan dari pihak manapun. Disini kalian minta ridha & petunjukNya untuk merestui hubungan kalian lewat kedua orang tua kalian dan atas kesadaran kalian berdua, dan Bukan dijadikan media alternatif untuk segera di terima lamaran kalian terhadap si calon istri nantinya.

Untuk para perempuan yang akan menjadi calon istri dan calon ibu, Listen by your heart. Lakukanlah pernikahan jika itu memang bedasarkan kesadaran kalian, bukan paksaan dari siapapun. Kitalah yang memegang kendali atas pilihan hidup kita. Bukan masalah kalian ingin menikah muda atau nanti, tapi please bukan karena suatu alasan yang sebenarnya bukan dari diri kalian untuk segera menikah. Menikahlah karena kalian memang ingin menikah dan berkomitmen penuh dengan pengabdian kalian sebagai istri dan ibu nantinya. Kalau menikah hanya karena perasaan tidak enak dengan orang lain, sekarang saya tanya seberapa lama sih rasa tidak enak itu? dan ingat tidak semua orang bisa kita senangkan hatinnya. Jika kalian sudah ingin menikah dan si mempelai pria belum melamar juga atau belum mempunyai calonnya, If you looks to be calm, you looks sexy girl on him eyes. Lakukan sesuatu yang lebih membuat kalian nyaman dalam menjalani hidup, lakukan rencana achivement yang sudah kalian buat untuk masa depan. Dan jika kalian sudah siap secara moril, mental dan finansial for getting marriage with ure lovely boo (uuuuh..) persiapkan semua secara kepala dingin dan lakukan berdua. Bicarakan apa yang kalian inginkan dari kehidupan pernikahan kalian mau, achivement or goal life yang ingin kalian capai sebelum menikah dan mix it agar bisa seimbang, bahkan mungkin sebelum kalian benar-benar ingin menikah. After that time semua itu tidak terjadi, at least semua sudah di bicarakan dari awal. Sekali lagi jangan memutuskan sesuatu untuk menikah kalau dari kita sendiri saja dasar untuk menikah hanya untuk “orang lain” diluar pribadi diri kita. Percaya deh, laki-laki yang benar-benar mencintai kita tidak akan memaksa kita untuk menikah dengannya, mereka akan sadar menikah butuh dua orang, dua kepala yang sudah pastinya isinya sudah berbeda, dan dua orang yang akan menikah bukan terdiri dari pribadi yang karakter sama. Dia akan menunggu sampai waktu dimana kita siap, dan ingat waktu itu pun jelas waktunya bukan absurd. Jika menjanjikan dengan secara rasional alasan yang sebenarnya untuk menunda, jangan mengingkarinya, itu akan menjadi indikator kita juga, apakah kita cukup berkomitmen atau tidak. Jika ia cinta dan berkomitmen penuh terhadap hubungan itu, dia akan memahami. Sekali lagi bukan karena umur kalian menikah, dan bukan karena ingin memiliki keturunan saja kalian akhirnya menikah. Misal dia tidak bisa menerima penjelasan penundaan kita, biarkan dia pergi untuk mencari kebahagiaannya yang lain. Remember, kita tidak bisa membuat seseorang menunggu kita dengan sabar, memaksanya untuk bersabar (kita juga tidak bisa dipaksa juga, kan?), dan memintanya untuk tidak meninggalkan kita, itu di luar kendali kita. So, your choose in your hand. Perempuan juga bisa memilih dan menentukan serta pantas untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Lalu kita bisa mengatakan YES, I WILL BE MARRIAGE WITH YOU! Bedasarkan pilihan secara sadar bukan lagi karena..karena.. yang lain.🙂

thanks for GA (riri) about ure story.It’s a full inspiring for me. This is a gift for you before you ‘ll marriage.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s