deeJourney

Just only deejorney.wordpress.com

and Finally, I said ” YES I WILL MARRIAGE WITH YOU” March 28, 2011

Filed under: think of me — deejourney @ 2:18 pm

Beberapa hari yang lalu, salah satu teman bercerita pada saya bahwa dia akan segera menikah akhir tahun ini. Sebagai seorang teman yang sudah lama tak jumpa lagi dengannya dan hubungan saya dengan dia dapat dikatakan dekat, saya jelas terkejut setelah dia mengatakan hal tersebut. Sempat bengong sesaat untuk memastikan bahwa saya menanggapinya tidak main-main. Dan dia berkata “ HEH Dee, masa kaya ginian gue main-main, sih?” dan saya cuma berkata dalam hati “ Iya juga sih, dia kalo beginian ogah untuk ga serius, walaupun nadanya kayaknya keliahatan ga cukup meyakinkan, hehehe”. Oke sebelum berlanjut ke intinnya tulisan ini, saya mau prolog dulu sedikit tentang dia.

Awal pertemuan kami adalah di KOST MAHARANI, Kober, Depok Jawa Barat. Kostan yang cukup megah dan mewah untuk ukuran anak kostan. Namun sayang, sebelah kostan tersebut terdapat pemakaman umum (namanya aja KOBER yang artinya kuburan, ga heran kalo ternyata masih ada beberapa kuburan disini, iiiyyy), dan bagi yang baru tinggal di jamin ga bisa tidur semalaman, tapi itu ga berlangsung lama kok cukup buat perkenalan semalam saja dengan penghuni lainnya (???). Lah, saya mau describe tentang kostan kami dulu atau teman saya itu yah? J Oke lanjut ya, saya merasa bahwa kita memang cukup dekat, teman sejawat, seangkatan, teman saat susah sewaktu awal perkuliahan dulu apalagi saat saat masa OSPEK berlangsung. Walaupun jurusan kami berbeda, saya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya saat itu dan dia D3 Pendidikan Kesekretaris FISIP, hal itu tidak membuat kami tidak untuk saling bertemu. Karakternya yang selalu ceria dan sangat ekspresif kalo sedang bercerita membuat kami dekat, kami akhirnya cukup mudah untuk saling mengenal. Hobinya yang selalu senang mendengar musik berkatagori keras, seperti rock and roll, rock dan blues, hmm ya seperti contohnya Simple Plain, The killers, Swithcfoot, Paramore dll itu tidak membuat pribadinya sekeras selera musiknya (dalam kasus ini, ternyata penelitian mengenai musik bisa memengaruhi kepribadian gak berlaku buat dia kayannya :P). Selama kurang lebih hampir 5 bulan secara intens kami tinggal bersama, nyari makan bersama, nyanyi dikala jenuh dengan tugas yang menumpuk deras, melakukan curhat-curhatan (FYI, kegiatan yang ga pernah absen dilakukan para cewek kalo lagi ngobrol, hihihii ) sampe minta tolong untuk temenin buang air kecil di kamar mandi sendiri (gak tau kenapa hal ini suka benget dilakukan, selama berada di kostan tersebut J). Setelah waktu itu berlalu kami berpisah tempat tinggal dikarenakan tempat kami tinggal dulu terlalu mewah dalam katagori hanya sekadar ‘taro kepala untuk istirahat” selain dari faktor utama juga sih => cukup buat bikin kantong kering bagi ukuran MABA saat itu. Lama tidak jumpa lagi karena kesibukkan kita berbeda, hampir 3 tahun, akhirnya kita ketemu lagi dan ngobrol lagi. Dia yang sedang bimbingan tugas akhir nya, dan saya yang masih berkelut sebagai mahasiswa dan masih harus menempuh sejumlah sks lagi untuk lulus. Di momen itulah dia bercerita tentang pernikahannya itu.

Sudah 3 tahun dia menjalin hubungan serius dengan pasangannya. Awal komitmen dari hubungan pun juga di desain untuk mengarah kesana, wajarlah, si pasanganya cukup berumur dan jarak umurnya cukup lumayan jauh dan untuk saat ini pun memang sudah di katagorikan cukup matang untuk membina hubungan lebih serius dari sekadar pacaran. Iseng saya tanya sama dia “ Lo udah siap kan?” dan dia jawab “ Yah, siap ga siap harus siap,dee” Lalu kemudian saya bertanya kembali “ Lo mau merit emang karena mau merit kan” sambil merendahkan suara agar terkesan pertanyaan ini dasar banget namun serius buat dia. Dan ternyata jawabannya membuat saya lebih kaget lagi dibanding yang pertama “Yah, sebenarnya, sih gue merit karena gue kasian sama dia. Dia udah cukup tua dee, lo tau kan gue ama dia nyaris perbedaan umurnya 10 tahun dan gue juga capek ditanya kapan meritnya terus dari pihak keluargannya. Jenuh gak sih lo, kalo itu berlangsung selama satu tahun terakhir ini dalam hidup lo? “. And which is above must to be underlined, check this guys KASIHAN, CAPEK and the most important here is JENUH. And you know what, MIRIS banget ga sih kalo alasan dasarnya begitu. Setelah mendengar jawabannya saya jadi mikir bahwa pernikahan itu ternyata butuh banyak persiapan, baik secara finansial, moril serta mental yang kuat. Tidak hanya kesiapan itu datang dari satu pihak saja melainkan dari kedua belah pihak. Kalo dasar pembentukan pernikahan saja sudah ada rasa iba karena kasihan si pasangan sudah cukup tua (biological time period was already ring..ring maybe :P) capek terus-terusan ditanya camer sampai akhirnya menyerah pada kejenuhan pertanyaan dengan mengatakan YES, I DO! Yang ada di kepala saya saat itu adalah => apakah hal itu yang akan menjadi pegangan disaat hubungan lagi sedang tidak harmonis? iya jika rasa iba itu trnyata long lasting, tapi jika hal itu akan semakin luntur sejalan dengan perubahan sikap after merit (tidak perlu ditutupin lagi kali ya, bahwa perbedaan itu pasti ada sebelum dan sesudah menikah) siapa coba yang mau jamin hal tersebut akan bertahan lama. Padahal perasaan cinta saja bisa surut oleh waktu apa lagi hanya bermodal KASIHAN??

Beberapa teman saya yang tentunnya sudah menikah baik yang seumuran bahkan yang lebih tua dari saya, selalu mempunyai alasan mengapa akhirnya dia memutuskan untuk menerima lamaran dan menikah dengan pasangannya. Kebanyakan dari jawaban mereka adalah faktanya semua itu karena factor luar yang mengkondisikan mereka untuk menjadi factor dalam yang pada akhirnya mereka yakini benar walaupun belum tentu –kalo ditanya lagi, nih- mereka bener-bener setuju, loh. Contoh alasan nya seperti, kaya tadi masalah umur, masalah jam biologis yang terus berputar, capek di tanya terus, tidak merasa enak dengan orangtua dengan pilihan hidupnya sendiri, agama(untuk yang ini bahasannya di bawah) sampai perkawinan politik (Kasihan yah, mau nikah aja banyak unsur campur tangan dari kepentingan sampingannya, menyedihkan!) Memang sih ada ada beberapa yang memiliki dasar alasan yang kuat karena dilandasi oleh hal yang bukan bermodal abstark saja, yakni KOMITMEN PENUH SECARA SADAR bukan hanya diucapkan didepan penghulu saja, namun terpatri dalam pikiran dan diyakini secara hati.

Menurut saya tidak fair rasanya jika kita menikah CUMA hanya bedasarkan umur. Apalagi adanya paksaan dari pihak luar untuk menyegerakan pernikahan kita. Tidak bisa di bayangkan, deh apa jadinya pernikahan yang dari awal dibangun bedasarkan rasa tidak enak kita pada sesuatu atau orang lain, gampangnya hanya untuk menyenangkan hati orang terdekat kita. Hei padahal yang menjalankan hidup kita adalah kita. Dan hal yang menyangkut pernikahan adalah kita berdua bersama pasangan (kalo kalian lebih suka di urus sama oranglain selain kalian berdua sih, ga masalah). Ditambah, di negara kita punya budaya menikahkan dua orang manusia sama saja menikahkan 2 keluarga dan unsur-unsur lainnya, belum lagi paradigma kita, mengadakan sebuah pesta pernikahan sama saja harus memberikan makan banyak orang di acara tersebut dan berharap feedback yang lumayan buat menutupi modal (Ayo..ayo ga usah nutupin, saya sudah dua kali menangani event pernikahan keluarga, dan basic generallynya itu, hihhii) padahal nih, seberapa banyak sih yang bener-bener kita kenal di acara kita itu?? Paling juga tamu-tamu si papah-mamah juga. Saya juga tidak menyalahkan hal tersebut, namanya juga tradisi, dan kita hidup di budaya itu. It’s Ok, during that isn’t made the new problems in next day. Tidak ada salahnya sih minta bantuan kepada saudara saudara kita yang lebih berpengalaman, but remember just to help for suggest not more do anything in both of us. Keputusan menikah didasari oleh 2 orang, bukan hanya si pihak perempuan saja atau pihak mempelai prianya saja. It has need the couples to fix it, its only two people. Menyangkut pernikahan itu berarti menyangkut hati, selain hati menyangkut pula masa depan dan komitmen yang tadi sudah disinggung. Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang memang secara sadar diinginkan oleh kedua belah pihak yang di lanjuti dengan restu kedua orang tua bedasarkan rahmat yang di beri Tuhan oleh hubungan tersebut. Kalo kamu berfikir saya sok tahu, saya justru akan membenarkan itu. Saya memang belum pernah menikah, dan jujur saya juga tidak mengetahui persis kehidupan setelah pernikahan berlangsung itu seperti apa, saya senang meneliti sesuatu yang saya fikir akan berguna bagi masa depan saya. Ini bedasarkan beberapa obesrvasi yang secara langsung maupun tidak langsung yang saya lakukan dengan berbagai artikel pernikahan dan kaitannya serta pengamantan saya secara diam-diam🙂. So, ini bukan mutlak kebenaran dari suatu tulisan saya, but its just my view.

Tulisan ini saya buat untuk para wanita yang akan menikah dan pria yang menikahi wanitannya. Jangan terlalu memaksakan ego kita dan orang lain untuk sebuah pernikahan. Jika ternyata kita belum terlalu siap untuk menghadapi hal itu. Hargailah proses tumbuh kembang pasangan kita, bukan salah kita menjalin hubungan dengan yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Permasalahanya adalah kita tidak pernah tahu kan isi hati sebenarnya pasangan kita jika didasari oleh “emang udah waktunya gue musti kawin” dan “karena iri melihat teman sudah beranak satu”.

Khusus untuk para bujang, saya kira tidak ada salahnya berbicara dari hati ke hati dengan pasangan kita secara jujur apa yang benar-benar diinginkan dalam suatu pernikahan, sebelum akhirnya menjalaninya. Agar kedepannya, keinginan kalian itu adalah murni dari kalian, dan komitmen yang dijalani juga di jalankan berdua karena dibuat berdua jadi risiko & permasalahannya jika terjadi di tanggung berdua juga. Saya pun juga mengerti sebagian dari kaum kalian ini menginginkan pernikahan juga karena kebutuhan biologis dan keturunan, tapi geserlah sedikit paradigama tersebut, bahwa sebenarnya menjalin hubungan pernikahan tidak hanya sekadar hasrat seperti itu saja. Dalam sebuah keluarga memang harus ada anak, biar kebutuhan berbagi cinta kalian mengalir kepada anak-anak kalian, tapi tidak harus memaksakan semua harus berasal dari keturunan anda kan? Anda tetap harus mempunyai anak, Sekalipun itu adalah anak adopsi. Anda harus benar-benar mencintai pasangan anda tidak lebih dari Tuhan dan lebih dari siapapun yang pernah anda temui dalam hidup anda (kecuali Ibu) serta berkomitmenlah untuk saling membangun sebuah hubungan yang long lasting. Dan ingat juga bukan karena umur anda harus sudah menikah, terlebih jika pasangan jauh lebih muda dan mungkin masih memilki hasrat untuk menjalankan mimpinnya sebelum akhirnya menikah. Saya tidak bilang bahwa pernikahan adalah penjara bagi kaum wanita muda, namun bagi perempuan (saya beritahu alasan sebenarnya) yang masih ingin melanjutkan/menyelesaikan studi dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan mimpinya atau paling tidak bisa menghidupi dirinya sendiri adalah tantangan jaman yang menuntutnya seperti itu. Percaya deh, bahwa setiap wanita memang menginginkan pernikahan ala dongeng dongeng yang pernah mereka dengar sewaktu mereka kecil, dengan seorang pria yang mereka cintai yang bersedia melamarnya dan ia menunggunya dengan akhir yang bahagia (hampir semua dongeng sebelum tidur menceritakan seperti itu kan, wajar menagapa perempuan meninginkan lebih disayangi dan diperhatikan oleh pasangannya) seakan semua usaha penyatuan hanya dilakukan oleh sang pria nya dan membuat wanita benar-benar merasa di inginkan. itu dulu. (tapi bagian agar selalu merasa di inginkannya, masih tetep sama dari dulu hingga saat ini, be a princess is a big dream everywoman)

Realita saat ini memaksa mereka untuk harus berkontribusi terhadap kehidupannya sendiri (paling tidak ya) yang tidak hanya bisa menangguhkan tangan terbuka menunggu gaji bulanan sang suami (Lain cerita yah kalo memang suaminnya pewaris tahta Inggris, misalnya. Itu sih ga perlu di bahas lagi.) Kita memang tidak pernah tahu kehidupan nantinnya seperti apa, namun antisipasi dari hari ini adalah penting bagi kebanyakan perempuan jaman sekarang di tambah makna pekerjaan bukan lagi hanya sebagai pemenuhan kebutuhan primer, namun kini sudah menjadi kebutuhan akan aktualisasi diri dan perkembangan karakter setiap individu. Sama seperti kalian para pria saat masih berumur 20an, kalian pun juga tidak ingin segera menikah kan? Apalagi dengan kondisi finansial kalian di umur segitu (Saya tidak membicarakan kejadian yang mikro yah, kita ngomongin hal yang kebanyakan pria lakukan di usia segitu). Lalu, ego kalian di usia segitu pun adalah menantang untuk mengejar karir yang kalian inginkan, sampai pada satu titik dimana kalian merasa, -paling tidak- It’s enough for me to getting marriage and its perfect time for have happy familly. Lantas apakah kalian akan memaksa mereka untuk meninggalakan semua mimpi-mimpi mereka juga? Kalo iya, sayang sekali saya katakan “ Who is the egocentric people?” Saya paham kalau diantara kalian akan berkata, kondisi keuangan saya cukup untuk memenuhi kebutuhan kehidupan setelah menikah bersama istri saya nanti. Iya saya sangat mengerti sekali maksud anda para lelaki, Namun coba deh berpikir begini jika sang istri masih ingin melanjutkan studi nya apakah kalian sanggup untuk memenuhi semua itu sampai impian studi nya tercapai?* (kalo ternyata orang tua nya masih mau membiayai studinya sih ga masalah, tap kalo pun iya, malu ga sih kalian sebagai laki-laki yang berani mengajak pasangan kalian untuk berumah tangga masih di bantu orang tua???) Jika sang calon istri ingin melanjutkan hingga S2, bagaimana? Jika kalian mampu untuk juga membiayai pendidikan calon istri, itu sih bukan soal. Nah, jika itu terjadi diluar kendali kita. Jangan sampai deh setelah menikah ada kalimat seperti ini “Buat makan ajah pas-pasan apalagi buat melanjutkan pendidikan” Ingat jika kalian sudah memiliki istri, tanggungan kalian terhadap istri bukan saja memenuhi kebutuhan rumah tangga, tapi juga segala kebutuhan yang mungkin bukan jadi prioritas bagi kalian para calon suami, tetapi penting sekali bagi calon istri. Tapi kan semua itu bisa di jalani di dalam pernikahan? YUP!! sekali lagi anda benar, bisa di jalani beriringan jika kalian belum memiliki seorang anak dalam waktu dekat setelah kalian resmi. FYI, bahwa perempuan itu akan rela meninggalkan impian dan ambisinya ketika akhirnya dia telah menjadi seorang Ibu. Hormon progesteron mereka meningkat seiring dengan keinginan mereka menjadi ibu seutuhnya dibanding lelaki dengan perubahan hormon pria untuk menjadi seorang ayah. Mereka akan lebih menyayangi anak mereka terlebih diri mereka sendiri. Semua dunia bagaikan autis jika menyangkut anak. Semua akan dilakukan demi kenyamanan si anak. Semua akan di tinggalkan demi pertumbuhan anak secara maksimal. Disini saya bukan menulis untuk mengatakan bahwa menjadi ibu konotasinya jadi tidak baik, justru saya menjelaskan kepada kalian calon suami dan ayah bahwa inilah pengorbanan seorang wanita ketika menikah dan punya anak. Mereka rela meninggalkan apa saja yang mereka inginkan sewaktu belum menikah dulu demi keharmonisan keluarga, demi kalian para calon suami dan anak-anak yang akan kalian miliki. Semua hal jika di kaitkan terus dengan logika kalian itu, memang terkesan mudah di jalani namun kenyataannya tidak semudah yang kalian pikir. Persoalan hati dan hormonal seringkali lebih rumit di bandingkan dengan logika sekalipun. Sekarang saya tanya balik, apakah ketika kalian menjadi ayah rela meninggalkan pekerjaan dan ambisi kalian demi seorang manusia kecil yang menginginkan kehadirannya selalu di nantikan oleh kalian para calon ayah? Seperti hal nya yang dilakukan oleh ibu kalian sewaktu kalian masih kecil hanya untuk memastikan bahwa kalian aman dan nyaman selama 24 jam/hari? Lalu apakah kalian akan menjamin tidak akan pernah keluar dari mulut manis kalian kalimat “ Sudah biar saya saja yang bekerja, kamu dirumah mengurus anak kita saja” lalu bagaimana dengan ijasah perguruan tinggi mereka yang di peroleh dengan menangis bombay di depan dosen pembimbing sewaktu mereka meraihnya, dengan ilmu yang pasangan kalian peroleh sewaktu mereka kuliah dulu? Dan bagaimana dengan keinginan pasangan kalian untuk tetap bertumbung dan berkembang di setiap kehidupannya yang mungkin sebagian berada disana? Mungkin ada dalam benak kalian mengatakan, saya melakukannya sebagaimana para pria melakukan hal yang sama seperti itu, dengan giat bekerja lebih keras & tidak melewatkan peluang-peluang yang bisa menghasilkan pundi-pundi emas. Yeah, It’s about logic reason from mars. Cobalah memahami hal itu terlebih dahulu dari sudut yang bebeda. Kalau dipikir pikir dengan logika juga, ini pun juga buat kehidupan berumah tangga kalian agar menjadi semakin baik, loh, tanpa menanggalkan komunikasi yang maksimal bagi hubunggan kalian berdua di dalam pernikahan. So, jangan memaksa pasangan kalian untuk bersedia menikah dengan kalian hanya karena ego kalian sebagai pria dewasa yang cukup umur serta rongrongan orangtua yang menginginkan cucu dari kalian (FYI, perempuan tahu kok, kapan saatnya dia harus memilih, dan tenang saja, keluarga adalah prioritas utama mereka). Dan ini penting, sering kali kalian membawa agama sebagai alasan kalian untuk menikahi perempuan. Memang menikah adalah memenuhi separuh din / agama menurut kepercayaan agama yang saya anut. Kalian mungkin terbiasa dengan doktrin “Jangan sekali-kali kalian (perempuan) menolak lamaran dari seorang pria yang baik agamanya, barangkali dia yang terbaik” kurang lebih makna yang saya tarik seperti itu. Kalian tahu, kadang kalian membawa sepenggal makna ayat ini untuk melamar calon istri, yang sebenarnya membuat pilihan untuk tidak ada pilihan lain. Agama berperan disini adalah sebagai pendukung hubungan kalian yang memang benar-benar di luar paksaan siapapun dan dari pihak manapun. Disini kalian minta ridha & petunjukNya untuk merestui hubungan kalian lewat kedua orang tua kalian dan atas kesadaran kalian berdua, dan Bukan dijadikan media alternatif untuk segera di terima lamaran kalian terhadap si calon istri nantinya.

Untuk para perempuan yang akan menjadi calon istri dan calon ibu, Listen by your heart. Lakukanlah pernikahan jika itu memang bedasarkan kesadaran kalian, bukan paksaan dari siapapun. Kitalah yang memegang kendali atas pilihan hidup kita. Bukan masalah kalian ingin menikah muda atau nanti, tapi please bukan karena suatu alasan yang sebenarnya bukan dari diri kalian untuk segera menikah. Menikahlah karena kalian memang ingin menikah dan berkomitmen penuh dengan pengabdian kalian sebagai istri dan ibu nantinya. Kalau menikah hanya karena perasaan tidak enak dengan orang lain, sekarang saya tanya seberapa lama sih rasa tidak enak itu? dan ingat tidak semua orang bisa kita senangkan hatinnya. Jika kalian sudah ingin menikah dan si mempelai pria belum melamar juga atau belum mempunyai calonnya, If you looks to be calm, you looks sexy girl on him eyes. Lakukan sesuatu yang lebih membuat kalian nyaman dalam menjalani hidup, lakukan rencana achivement yang sudah kalian buat untuk masa depan. Dan jika kalian sudah siap secara moril, mental dan finansial for getting marriage with ure lovely boo (uuuuh..) persiapkan semua secara kepala dingin dan lakukan berdua. Bicarakan apa yang kalian inginkan dari kehidupan pernikahan kalian mau, achivement or goal life yang ingin kalian capai sebelum menikah dan mix it agar bisa seimbang, bahkan mungkin sebelum kalian benar-benar ingin menikah. After that time semua itu tidak terjadi, at least semua sudah di bicarakan dari awal. Sekali lagi jangan memutuskan sesuatu untuk menikah kalau dari kita sendiri saja dasar untuk menikah hanya untuk “orang lain” diluar pribadi diri kita. Percaya deh, laki-laki yang benar-benar mencintai kita tidak akan memaksa kita untuk menikah dengannya, mereka akan sadar menikah butuh dua orang, dua kepala yang sudah pastinya isinya sudah berbeda, dan dua orang yang akan menikah bukan terdiri dari pribadi yang karakter sama. Dia akan menunggu sampai waktu dimana kita siap, dan ingat waktu itu pun jelas waktunya bukan absurd. Jika menjanjikan dengan secara rasional alasan yang sebenarnya untuk menunda, jangan mengingkarinya, itu akan menjadi indikator kita juga, apakah kita cukup berkomitmen atau tidak. Jika ia cinta dan berkomitmen penuh terhadap hubungan itu, dia akan memahami. Sekali lagi bukan karena umur kalian menikah, dan bukan karena ingin memiliki keturunan saja kalian akhirnya menikah. Misal dia tidak bisa menerima penjelasan penundaan kita, biarkan dia pergi untuk mencari kebahagiaannya yang lain. Remember, kita tidak bisa membuat seseorang menunggu kita dengan sabar, memaksanya untuk bersabar (kita juga tidak bisa dipaksa juga, kan?), dan memintanya untuk tidak meninggalkan kita, itu di luar kendali kita. So, your choose in your hand. Perempuan juga bisa memilih dan menentukan serta pantas untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Lalu kita bisa mengatakan YES, I WILL BE MARRIAGE WITH YOU! Bedasarkan pilihan secara sadar bukan lagi karena..karena.. yang lain.🙂

thanks for GA (riri) about ure story.It’s a full inspiring for me. This is a gift for you before you ‘ll marriage.

 

Mantan pacar, the trouble for a new relationship?? April 30, 2010

Filed under: think of me — deejourney @ 5:39 am

Kalau ada orang yang suka curhat bahwa dia masih sayang sama mantan pacarnya, atau masih kangen sama mantan pacarnya, atau ingin kembali lagi dengan mantan pacarnya, aku suka aneh mendengarnya.

Bagiku, orang-orang seperti ini seperti tidak punya masa depan, dan seperti tidak bisa menghargai apa yang ada di hadapannya sekarang. Tidak bisa menikmati pemberian Tuhan hari ini.

Ketidakpuasan terhadap pacar yang ada sekarang, seringkali melayangkan ingatan kepada memori yang ditinggalkan oleh hubungan yang telah lewat. Dengan alasan menjaga tali silaturahmi, kadang-kadang banyak orang yang tetap berhubungan sebagai teman walaupun sudah tidak berpacaran lagi. Dan ketika bermasalah dengan pacar yang sekarang, biasanya berusaha mencari tempat curhat yang lain, yaitu teman dekat atau bisa juga mantan pacar.

Mantan pacar memang bisa menjadi sesuatu yang menarik ketika hubungan yang dijalani dengan pacar yang sekarang tidak semanis apa yang pernah dirasakan sebelumnya.

Tapi, orang-orang yang masih merindukan mantan-mantan pacarnya ini, seringkali tidak menyadari bahwa mantan pacarnya sekarang sudah punya kehidupan yang lain. Sudah punya dunia baru yang diisinya dengan pasangannya yang sekarang. Sehingga ketika dia berusaha mencari tempat untuk curhat atau sekedar melepaskan rasa kangennya, dia juga tidak menyadari bahwa setidaknya dia juga sudah mengganggu hubungan orang lain. Coba saja kalau ternyata pacarnya yang sekarang ternyata masih juga berhubungan dengan mantan pacarnya, apakah dia tidak akan cemburu? Rasanya tidak mungkin.

Setiap orang mempunyai rasa cemburu. Hanya saja kadar kecemburuan setiap orang pasti berbeda-beda. Nah, kalau kebetulan dia sendiri sewaktu menjalani hubungan dengan pacarnya agak-agak paranoid, seharusnya dia juga berfikir bahwa dia tidak boleh mengganggu hubungan orang lain. Tapi kebanyakan orang-orang seperti ini tidak peduli.

Persoalannya menjadi lain kalau hubungan pertemanannya diketahui oleh pasangan masing-masing. Kalau hubungan pertemanan itu diketahui oleh pasangan masing-masing dan pasangan masing-masing sama sekali tidak berkeberatan atas hubungan pertemanan itu, ya tidak apa-apa. Tapi pada kenyataannya, hubungan pertemanan dengan mantan pacar selalu disembunyikan dengan dalih menjaga perasaan pacarnya sekarang. Akibatnya ketika sang pacar yang sekarang mengetahui hubungan pertemanan tersebut, dia pun bisa menjadi lebih marah.

Rasanya wajar kalau seseorang menginginkan suatu hubungan cinta yang hanya diisi oleh dua orang. Dan ketika ada orang-orang lain yang dirasakan menganggu kenyamanan hubungan tersebut, rasanya wajar juga kalau kemudian timbul rasa kesal atau marah.

Come on, tidak ada seorang pun yang ingin hubungannya diganggu atau terganggu. Bahkan untuk orang yang senang mengganggupun, kalau hubungannya diganggu atau terganggu dia akan kesal dan marah. Jadi, bagaimana dia bisa dengan tenang tetap mengganggu kenyamanan hubungan orang lain? Ya bisa saja. Orang-orang seperti ini biasanya egois. Tidak peduli perasaan orang lain, pokoknya perasaan dia saja yang paling penting.

Orang-orang yang masih selalu merindukan mantan pacarnya sebaiknya tidak mengorbankan orang lain, baik itu pasangannya sekarang atau pasangan mantan pacarnya. Banyak hati yang akan terluka oleh sikap dan perilaku yang ditimbulkan dari kenangan masa lalunya.

Seharusnya, ketika seseorang memasuki tahapan baru dalam suatu hubungan, dia sudah siap untuk memasuki dunia yang baru. Mencoba melakukan penjajakan hubungan baru tetapi hati dan jiwanya tidak siap, hanya akan menimbulkan luka bagi orang yang dijadikan pasangan.

Orang-orang yang masih larut dalam kenangan masa lalu sebaiknya tidak mencari pelarian hanya untuk coba-coba. Memikirkan terlebih dahulu konsekuensi yang akan dijalani dalam hubungan yang baru dan mempersiapkan diri terlebih dahulu adalah jalan yang terbaik.

Orang-orang yang masih ingin berhubungan dengan mantan pacarnya sebaiknya berkaca pada diri sendiri dan menyadari apakah dia sendiri akan rela apabila hal seperti itu terjadi padanya.

Don’t ever bring your baggage from the past for your future relationship as it will only cause the pain for many people in that circle. Trust me, I know how it felt, and it was so painful!

 

The book of Eli, penyampaian pesan agama di tengah perang.

Filed under: think of me — deejourney @ 5:25 am

Al Qur’an bersanding dengan Alkitab bersama deretan buku-buku suci yang lain di sebuah perpustakaan, itulah adegan terakhir dari The Book of Eli, film hasil rumah produksi Warner Bross. Sebuah perpustakaan yang dirintis setelah kehancuran sebuah peradaban manusia karena perang besar. Perang yang meluluhlantakkan seisi bumi sehingga air menjadi barang yang mahal dan bumi tidak terlindungi dari sinar matahari. Semua orang harus mengenakan kaca mata jika tidak ingin menjadi buta.

Tiga puluh menit awal adegan film yang dibintangi Denzel Washington dan Gary Oldman ini terasa begitu membosankan. Nuansa kering, gersang dan aroma penuh warna kematian begitu mendominasi. Mulanya saya berpikir, ini mungkin film jenis thriller. Duduk terasa sudah kurang nyaman, namun sayang jika meninggalkan kursi karena sudah bayar mahal. Menjadi agak menarik ketika sang jagoan mulai menunjukkan aksinya. Seperti lazimnya tokoh-tokoh heroik ala amerika, sang lakon main babat, tebas dan bunuh tanpa luka sedikitpun. Sampai separoh waktu tayang, saya masih belum menangkap alur cerita yang disajikan. Mencoba menghubungkan dengan judulnya “The Book of Eli” saya berpikir mungkin ini sebuah biografi fiktif kehidupan sesosok jagoan di kampung berandalan ala Bronx.

Satu per satu rangkaian logika dibangun dari setiap percakapan dan adegan dalam film. Nuansa kematian di pembuka film ternyata merupakan suatu keadaan yang terjadi sebagai akibat perang besar tiga puluh tahun sebelumnya. Cerita langit yang berlubang mungkin merupakan pengandaian atas hilangnya lapisan ozon akibat perang nuklir. Manusia menjadi mudah terpapar radiasi sinar matahari sehingga terus menerus memakai kaca mata dan menjadi lebih tua dari yang sebenarnya. Barang-barang yang ada pada zaman sekarang seperti shampoo, air, korek api dan buku menjadi barang langka. Manusia tidak bisa membaca dan menulis serta tidak mengenal Tuhan. Perang besar yang mematikan peradaban, itulah setting yang dibangun. Orang-orang dan kehidupan purba pada zaman setelah modern (era nuklir).

Teringat dengan film 2012, film yang diproduseri Joel Silver, Susan Downey, Andrew Kosove, Broderick Johnson, dan Denzel Washington ini juga menyajikan hancurnya sebuah peradaban, atau sebutlah kiamat. Bedanya, film 2012 menempatkan alam sebagai penyebab kehancuran, sementara film besutan sutradara Albert Hughes dan Allen Hughes ini menempatkan fanatiisme beragama yang sempit sebagai penyebab kehancuran. Penonton digiring secara perlahan bagaimana orang atheis menggunakan kitab suci sebagai alat untuk memenuhi kepentingan pribadinya lewat tokoh Carnegie (Gary Oldman).

“Dahulu buku itu pernah berhasil, dan sekarang pun akan berhasil”.

Itulah keyakinan Carnegie yang mendorong perilakunya untuk mencari sebuah buku. Menggunakan anak gundiknya, Solara yang diperankan oleh Mila Kunis, untuk merayu Eli. Carnegie berharap dengan takluknya Eli, ia dapat menguasai dan menggunakan buku yang dibawanya untuk menguasai orang lain.

Kalimat itu pula yang mendasari perempuan simpanan Carnegie untuk mencari buku yang sama. Bedanya, Carnegie berusaha menggunakan pengetahuan akan buku dimaksud untuk memperalat orang lain, sementara sang gundik yang terpaksa mau jadi gundik mencari buku karena memang merindukan ayat-ayat Tuhan.

Eli, sang pembawa buku, mungkin sosok nabi di masa depan. Ia mendapat amanah untuk membawa buku tersebut ke barat, suatu tempat yang layak untuk menerima kabar gembira yang ada di buku. Orang di barat bukanlah orang-orang Carnegie, tetapi orang-orang dari zaman sekarang yang selamat dari kehancuran dunia. Orang-orang di barat mengenal Tuhan, tetapi tidak menemukan buku yang menuntun mereka untuk mengingat Tuhan karena semua sudah dimusnahkan pada saat perang. Buku-buku suci tersebut dimusnahkan karena menjadi penyebab perang. Namun buku-buku tersebut juga dicari karena dari buku itulah perang dapat dihindari.

Meski harus membunuh dan menggunakan pedang, kebaikan dalam buku itu harus sampai kepada tangan yang berhak. Itulah prinsip hidup Eli. Ia harus menghadapi apa pun yang menghalangi jalannya. Dan Eli yakin, ia akan menang karena Tuhan di pihaknya. Sampai menjelang akhir hayatnya karena ditembak Carnegie, Eli sadar bahwa selama ini ia hanya mempertahankan buku dan membacanya namun tidak menghayati serta mengamalkan pesan yang ada di buku.

Begitulah pesan dan kesan saya atas sepanjang 117 menit durasi film The Book of Eli. Meski secara kualitas, film tersebut biasa-biasa saja bahkan kadang banyak hal yang terlalu didramatisir, namun sarat pesan tersirat yang penuh paradox dan kontradiksi. Tentu saja semua akan diserahkan kembali pada penilaian pemirsa, terlepas dari konteks pembuat film yang menempatkan Alkitab sebagai buku yang sangat dicari dan diperebutkan. Mungkin jika si pembuat orang Indonesia, maka Alkitab akan diganti dengan Al Qur’an sebagai The Book Of Eli.

 

my 2009 will be end December 28, 2009

Filed under: think of me — deejourney @ 5:38 am

Toward the end of the year like this, it’s not bad if I did not write about what has happened in this year. 2009. As the material for my own evaluation of course.

2009 .. made many changes in my life, feelings of losing a very, very tender to be accepted, that inspires the meeting after three years of not meeting that ended with tears derail unable to stand against his own feelings, loss of status as a student, until the meeting of two souls love.

Leaving the place where we have to feel comfortable is hurt. This year, taught me a lot of dramatic events, full of tears, and a sense of regret. I failed the college entrance exams leading country in Indonesia made me shattered pieces too. Depression made me feel at the lowest point in life. Disappointing and disappointed.

And fortunately, I met someone who can give the color in my life. Taught me the reality of life that we must accept. Makes me get up and do not give up again. I am a senior who became the older brother and a teacher for me and is now a reliable partner. I know him so very well and he did too. Makes me feel free and brave to go back. Not only, he felt happy together but also we often disagree, but it was the one who made us knows us characters each. In this connection one can not say without disabilities. I understand that some of our actions are distorted. But it was the one who made us aware that we do not have to like this constantly. This is to be our resolution for the next.

This year was a memorable year, in addition to my disappointment over her failed I went to a top university this year. Why? Yeah you are right about the meeting of my dreams since the last one three years since my last meeting with him, someone who once loved and disappointing. Stupid before I met my soul mate right now, I still expect it. No matter how many times I dreamed about it. But I know he never existed. Abstract. Very abstract. The meeting made my heart kept pounding. Until I can not control it. Preparation for the preparation before meeting him, making me a crazy person for a moment. My old disease relapse. I still can’t to face off, he’s response to me highly inappropriate for the size of the old people do not see. Again, I look stupid than I am writing this. But all it taught me, how I do not want him there in my life. And his curiosity would have ended up at a time when it was.

And 2009 will end, I’m remembered as the year self-improvement, and forget something that needs to be forgotten. HAPPY NEW YEAR 2010. I can not wait waited for.

 

LOWEST POINT IN LIFE- Titik terendah dalam hidupku October 19, 2009

Filed under: think of me — deejourney @ 2:21 am

Setiap orang yang hidup selalu akan merasa seperti ini; MENEMUKAN TITIK DIMANA TIDAK LAGI DAPAT BERKATA APAPUN!
Titik yang amat sukar sekali digamblang – kan secara jelas, dan hanya bisa dirasakan. Jenuh, suntuk, merasa diabaikan, marah, kesal, serba sensi, serba salah, Membuat diri kita terkadang tergoda terhadap instabilitas mood, semangat dan kelurusan visi, dan sekeribet perasaan negatif lainnya. Begitu yang pernah saya dengar. Titik terendah dalam hidup.

Insensitive jerk!

sangat tidak enak sekali rasanya. Berkali kali saya selalu mendapat “pujian”__dee, kenapa dilepas? sayang- tauk! udah ngedapetinya susah, ehh dilepas gtu ajah.., Terus sekarang lu kuliah dimana?–Semakin bertambah ajah pengangguran di Indonesia yaa? suma lu gimana? Acara kemaren batal dong, –ngapain lo nanya kapan gua lulus? lu ajah belom kuliah! kamu tuh sekarang gimana sii? kok gitu seh lu dee, kalo gua jadi lo gua bakal..lagian sih lo begini begitu. terus rencana berikutnya apa dee, sabar yaa dee, seharusnya lu…bla..bla..bla..

Dan segala macam rentetan nyanyian yang begitu indah di telinga saya saat ini. Ada perasaan ” saya merasa tidak berguna “, suntuk, sumpek, dan kejenuhan tingkat tinggi dalam kondisi hidup saya saat ini. Saya sangat merindukan masa-masa dimana waktu saya masih kuliah dulu, cari tugas, gosipin dosen, capek karena lari-lari mengejar bikun karena telat masuk kelas atau keenakan ngeliput kesal karena ditolak terus atas referensi tugas yang saya dapatkan, rindu tempat kos-an, iri melihat teman seangkatan pusing karena kuliah ( lebih baik daripada saya, pusing karena tidak melakukan apa-apa yang bermanafaat ) SAKIIT SEKALI. Aku cemburu! Ya, saya cemburu.

Ketika tahu proposal hidup saya di tolak oleh-Nya, rasa kecewa kian menjadi. Awal dari paragrafku pun tak disetujuiNya. Saya mengerti, kita tidak boleh mengeluh, mungkin ada jalan lain yang Allah rencanankan, dont be sad! tapi, saya tetap manusia biasa. Saya tidak ingin menafikan hal yang saat ini saya rasakan. Saya mungkin mengelak, membela, menutupi keadaan sebenarnya pada orang-orang terdekat, tapi tidak dengan hati. Saya memutuskan pergi dari zona nyaman itu dan saya merindukannya? sangat klasik sekali, bukan?

Saya memutuskan keluar dari jurusan di sebuah universitas ternama. Bukan karena saya tidak mampu menjalaninya, tapi hati saya terus bergejolak. Awalnya saya yakin saya kan menang, tapi keyakinan tersebut semakin lama semakin menyurut dengan derasnya kenyataan bahwa saya tidak diterima lagi di jurusan yang saya pilih. Keinginan saya untuk lulus sebagai mahasiswa baru lagi di universitas tersebut kian kandas dan tenggelam. Saya larut. Dan tidak tahu lagi mau kemana. Lalu, ada secercah semangat. Saya masih memiliki satu kesempatan lagi di tahun depan, dan aku ingin mencobanya. Dan sekarang pun sedang dalam proses persiapan ( dan lagi-lagi ini terjadi, menjadi siswa sebuah bimbingan belajar persiapan masuk perguruan tinggi negeri untuk ketiga kalinya! ) kadang saya berfikir, seandainya nii bimbel punya perguruan tinggi mungkin saya akan jadi mahasiswa pertama yang daftar dan berbeasiswa- ya, saya sudah sangat hampir hafal sekali bentuk soalnya- Tapi mudah-mudahan saja tidak. Dan saya pun tidak mau. Saya hanya bercanda, kok.

Saya malu pada keluargaku, karena sebagai anak, saya belum bisa membanggakan apapun. Hanya awalan saja, ketika terakhir namaku tercatum sebagai mahasiswa yang diterima di salah satu perguruan tinggi negeri begitu bangganya mereka. Sebelumnya saya pikir inilah jalanku, saya tlah buat segala macam rencana target dan strategi yang akan saya perjuangkan dan pertahankan. Tapi ternyata….ada perasan berkecamuk, bukan disini tempatku, saat akau masih bingung dalam keadaan pilihan tersebut, ternyata Allah memberikan suatu jalan untuk memilih salah satu diantara keduannya. Dan ketika saya mencoba mengikutinya ditahun berikutnya, dengan segala kepercayaan diri, ternyata saya belum berhasil, dan pengorbanan semester lalu yang kukorbankan membuatku menyesal. Membuatku sakit dan mengiris hati ketika harus menjawab pertanyaan diatas tersebut.

Saya masi muda, pikir saya. Dan saya bisa melakukan apa saja. bathin saya menjawab. Ayo temukan, temukan! nurani saya berteriak. Move on!
Waktu yang saya miliki begitu luang, tapi saya merasa banyak waktu yang saya sia-sia kan. Awalnya saya fikir, saya akan memulai dengan mengikuti les musik. Mengembangkan bakat saya yang sempat terpedam sekian lama. Namun, orang tua saya, tipe Yess Man! iyaa..iyaa enggak enggak!
. Saya butuh penyegaran. Keseimbangan dalam hidup saya. Saya ingin dilibatkan dan terlibat, saya ingin berguna untuk orang lain begitu jiwa saya memanggil.

Bahkan, saya pun iri dengan orang terdekat saya saat ini, pacar saya begitu energik. Dia memiliki waktu yang bisa ia bagi dengan efektif, tanpa harus meninggalkan satu atau banyak hal dari waktu yang ia jalani sendiri. Dia bisa melakukan apa yang dia bisa lakukan. Pekerjaannya, keluarganya, organisasinya, kuliahnya dan hubungan nya dengan saya. Bukan berarti saya bilang, dia tidak menemukan masalah disana dan semua terlihat over all good, tapi setidaknya, dengan begitu ia bisa jauh lebih berkembang dibanding saya. Jika kamu bilang bahwa seharusnya saya tidak berfikir seperti itu, memang seharusnya, seharusnya hal itu bisa dilakukan sama-sama, dia berkembang, apalagi saya. tapi yang saya rasakan, saya insecure, saya iri, saya sedih, saya rindu. Dia pernah bilang pada saya, ketika ia sedang mentoring dengan salah satu mentor kami, dia mengatakan bahwa, ketika kita sedang merasa (seperti apa yang saya rasakan-titik terendah dalam hidup) mungkin kita perlu tinjau kembali hubungan kita dengan sang pencipta. Mungkin itu adalah akarnya. Sejauh ini dia selalu membantu saya, memotivasi saya, tidak membuat saya jauh lebih depressed dan saya suka itu. Tapi tetap saja perasaan itu tetap ada. Apalagi, seperti saat ini, saya jadi lebih sensi, mudah cemburu. Yang saya tahu, saya bukAn tipe wanita yang mudah untuk mencemburui sesuatu hal. Bagi saya masih ada hal yang lebih penting dari hal tersebut. OK, saya ralat, cemburu itu penting-begitu kutipan kata dari pacar saya- tapi cemburu yang seperti apa, pikir saya. Anehnya, saya cemburu dengannya, sesuatu yang abstrak, tidak ada bukti, bisa dibilang cemburu buta. Bahkan bisa cemburu dengan semua kegiatannya? Oh my God, seperti tidak ada kerjaan lain saja diriku ini..hahhahaha🙂

Seorang senior dalam notes nya di suatu jejaringan sosial menulis seperti ini ” Layaknya sebuah kurva sinus dalam kurva trigonometri, dimana naik turun adalah sesuatu yang sangat habitually. Memang ada saat di mana kita mungkin merasa jenuh dalam rutinitas kehidupan kita. Stuck in reverse. Hanya mengalami perputaran yang sangat lambat. Kita melihat dunia di sekitar kita melakuakan gerakan-gerakan yang cepat,secepat mobil balap. Sedangkan, kehidupan kita mengalami stagnansi. Ketika ingin bergerak cepat, yang terjadi adalah merangkak demi mencapai tujuan hidup pribadi. Terasa langkah kaki kehidupan berat untuk terayuh. Terbebani. Namun kadang kita sendiri tidak menyadari beban itu, atau kita yang berpura-pura menikmati beban itu. Atau malah acuh tak acuh dengan stagnansi hidup. Bersyukurlah karena kita memang manusia, yang diberi kelebihan selain kelebihan rasa sombong yang mungkin masih saja menggerogoti potensi kita. Yaitu adanya perangkat ajaib yang dijejalkan dalam kepala kita, otak. ”
Kalimat tersebut benar-benar menyentuh hati saya, seakan saya harus tetap berjalan, dan terus berjalan apapaun pilihan hidup yang tlah kita pilih. Dan ketika saya mengalami hal ini, mungkin jalan terbaiknya adalah diam. Diam disini bukan berati tidak melakukan apapun, berjalan apa adanya dan seadannya. Bukan itu yang pasti yang dimaksud adalah merenungkan kembali perjalan hidup saya atau kita semua, meninjau kembali hubungan kita dengan sang pencipta, seperti yang tlah saya uraikan diatas. Dalam notes seorang teman saya itu pun berkata ” Lalu kita manfaatkan otak kita tadi untuk melakukan suatu momen. Momen yang sangat memungkin menghadirkan segala hal yang menyegarkan hati. Momen sederhana, tapi berdampak luar biasa.” Mengistirahatkan fungsi otak kita selama ini. Mungkin ini adalah masa rehatku selama ini, dan sepertinya dan selalu Allah tahu apa yang aku butuhkan. Mem pause-kan diriku sejenak.
Tidak perlu terlalu lama, yang terpenting efektif. Seperti itu.

Dan saat ini saya ingin kembali menemukan titik cerah diriku sendiri, melakukan suatu yang bisa membuatku kembali bergairah dalam hidup. Saya sedang mencari lowongan partime untuk menambah uang bimbel yang masih kurang. Kenapa saya tidak minta pada orangtua? Jujur, saya malas untuk memintanya. Ribet dan aaahh sudahlahh..lebih baik saya cari sendiri sisanya dan mungkin saya akan menemukan titik puncak kembali hidup saya nanti.

Satu hal yang saya mengerti, mencari pekerjaan itu susah, apalagi hanya berbekal ijasah SMA…

dalam otak saya, saya harus mendapatkanya lagi, menciptakan standar setingi-tinggi nya, seperti yang di ungkapkan oleh pak Mario Teguh dalam notesnya yang berbunyi “ Anda harus menetapkan standar kualitas untuk yang dapat Anda terima dalam karir dan kehidupan pribadi Anda.

Jika tidak, Anda akan sering diharuskan menerima apa adanya., Menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.

Mengupayakan tercapainya yang terbaik, adalah sikap orang yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada dirinya, untuk mencapai yang terbaik bagi dirinya, keluarganya, dan bagi sebanyak-mungkin orang lain.” Saya sangat suka sekali denagn kalimat pak Mario Teguh seperti itu. Menetapkan standar. Jika saya menambahkan, menyesuaikan diri dengan standar yang ingin kita pilih, dan mengespertasikan diri kita untuk dapat mencapainya.

Ini standar jangka pendekku dalam jangka waktu lima atau enam tahun kedepan, jadi mabaUI lagi 2010, dan saya mau study abroad S2 di Universitas Leipzig Law for the protection of minors and for the criminal law of the media, Germany.

Saya harap, siapapun kalian, kenal atau tidaknya dengan saya. Kita sama sama mendoakan, agar bisa menjalan kan proposal hidup kita masing-masing dan kembali di approve-Nya lagi. Amin

DianPramashanti#

 

Aku minta pada-Nya July 21, 2009

Filed under: think of me — deejourney @ 8:12 am

Saat kita tahu, betapa berharganya waktu, kehadiran seseorang, penghargaan terhadap hasil yang dicapai begitu mahal, maka disaat rasa seperti itulah aku merasa nikmat Allah begitu indahnya.

Aku minta pada-Nya, walaupun aku tahu aku tak bisa melihat-Nya, bahkan mendengarnya. Selalu kubertanya dalam diri, apa maksud dari perjalanan yang tlah kujalani sejauh ini? Dan kenapa aku bisa berada sejauh ini dengan keputusan sulit yang tlah kuambil.

Resiko yang tlah kuambil begitu banyak mengorbankan banyak hal.
Kebanggaan orang-orang tercinta, materi, dan bahkan resiko ditolak.
Selama ini, aku belum pernah merasa segamang ini. Sulit memutuskan bagaimana kembali bicara dari awal kepada seseorang yang begitu sewajarnya mengatahui. Entah mengapa, semakin akau merasa depresi, semakin aku bisa untuk “melindungi” diriku sendiri.

Apa kalian fikir aku ada masalah dengan hidupku?
Iya benar, dan itu tidak salah. Aku membenarkan karena aku lelah berspekulasi dengan diriku sendiri. Maka aku ingin Allah mengabulkan doa-ku, memperjelas eksistensiku selama beberapa bulan ini, memberi yang terbaik, terutama untuk Ayah dan Ibuku. Jujur, masalah ku adalah aku sulit berbicara dengan beliau. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi, tidak tahu bagaiamana ini dimulai. Dan aku pun tak tahu bagaimana harus memulai menceritakan dari awal, tentang pilihan hidup yang tlah kujalani. Aku selalu mencari perfect timing ku sendiri, tapi ternyata sampai saat ini aku belum menemukanya ato mencarinya. Kadang, aku berlindung dibalik kenyamananya waktu. Sampai aku terlupa, samapai mana aku harus kembali berjalan.

Aku benar-benar minta pada-Nya. Para ahli agama bilang, bicaralalah pada Tuhan-Mu, bahwasanya dia maha mendengar lagi maha mengabulkan. Aku percaya itu. Maka aku berdoa Pada-Nya. Walaupun kutahu, doa tidak selalu dikabulkan dalam bentuk yang kita harapkan, bisa jadi amal kita nanti- begitu katanya.

Dan saat ini yang kuharapkana adalah, bantuan -Nya.
apapun itu. Aku perlu Dia.

 

Repotase-ku di Bandung April 30, 2009

Filed under: behind d'scene of deeJourney — deejourney @ 11:39 am

Awal bulan April lalu, aku mendapat tugas repotase dari redaksi Suara Mahasiswa dikampusku untuk mengisi arikel ragam. Ketika itu objek bahan penelitan untuk repotase adalah seekor ulat sutra . Aku ditugaskan untuk meliput sebuah tempat peternakan ulat sutra di Jalan Arcamanik, Padepokan Dayang Sumbi, Bandung Timur.

Pagi-pagi seklali, pukul 05.40 aku berangkat dari kos-kosan ku menuju pangkalan sebuah travel yang tlah kupesan satu hari sebelumnya. Ketika tlah sampai disana, aku harus menunggu setengah jam dari pukul 06.00 untuk keberangkatan 06.30. Sambil mengisi waktu, aku keluarkan ipod andalanku untuk menghindari kejenuhan. Saat itu yang kurasa adalah rasa dag dig dug tak menentu. Dikarenakan, hal ini adalah kali pertama aku ke Bandung sendirian dan tidak mengenal medan area berita disana. Untungnya, aku ditemani oleh seorang teman lama yang mengerti akan kondisi area Bandung.

Pukul 06.35 aku berangkat dari tempat pangkalan travel tersebut yang letaknya di daerah Tanjung Barat. Selama perjalanan, aku terus memandangi pemandangan, mendengarkan ipod, sesekali memotret keadaan jalan dengan kamera pocket ku, dan tentu saja tak lupa aku memotret diriku sendiri;)

Ternyata perjalanan menuju Bandung sangatlah cepat, Hanya dua jam saja jarak yang kutempuh. Pukul 08.30, aku tlah sampai di pool pemberhentian travel. Kesan pertama yang ku tangkap dari kota kembang ini adalah jalan transportasi darat disini rumit dan terkesan tak teratur, muter-muter, dan kemungkinan aku bisa nyasar jika aku mengelana sendiri. Hal ini kusadari, setelah aku benar-benar memerhatikan secara sadar setelah aku berkali-kali ke kota ini. Mungkin efek dari kedatanganku yang sendiri kali yaa, jadi lebih sering memerhatikan hal-hal seperti ini. Ketika tlah tiba disana, aku langsung menunggu temanku itu untuk segera menjemputku. Karena ada urusan kecil yang medesak, akhirnya temanku itu, sedikit lebih lama menjemputku. Pukul 10.00 dia tlah datang. Ada perasaan tak enak karena tlah membuatku menunggu lama, katanya. Tapi sejujurnya aku yang lebih tak enak, karena menggangu hari weekend -nya..hihihi:). Sebelum pencarian lokasi berita, kita sempat sarapan dulu, disebuah tenda makan nasi timbel- aku lupa namanya-. Seusai makan, kita langsung mencari denah lokasi berita yang ingin aku liput. Pencarian yang membutuhkan waktu sedikit lama, bertanya sana sini , dan macet yang tiada tara. Yang menjadi perhatianku disini adalah saat perjalan menuju disana. Kulihat kultur disana, masyarakatnya begitu ramah terhadap orang asing sepertiku. Temanku itu, jika bertanya selalu ada kata ‘ a ‘ untuk panggilan para pemuda disana dan ‘ teh ‘ untuk perempuanya. Kalau menurut temanku itu, peuyem-peuyem disana cantik-cantik, tapi matrealistis. Aku geli mendengarnya, dan kufikir, stigma masyarakat Indonesia, ternyata begitu kuat eksistensinya. Seperti yang sering kudengar, ” nanti kalo mau menikah, jangan sama orang ini, yang terkenal pelit. Atau jangan orang yang dari pulau ini, mereka bilang tukang selingkuh, keras dan kasar. Lebih gelinya lagi, kalo sama orang ini, mereka terkenal sendu( senang duit ) ” Huffh..tanpa bermaksud menujuk siapa, tapi yang ingin kutekankan disini, begitu mudahnya seseorang menstigma orang atau sekelompok budaya lain, padahal subjektifitas tersebut, kerapkali belum tentu kebenaranya. Bahkan, seorang stigmatis ataupun menjugde suatu hal yang lain dari ini pun, kerapkali mejilat ludahnya sendiri. Aku pribadi, termasuk tidak terlalu memedulikan hal itu, bagiku itu kurang penting. Hheheheehe.😉

Akhirnya, kita sampai ditempat tujuan. Dengan latar tempat yang sedikit jauh dari pusat kota, jalan yang bebatuan, banyak ladang dan sawah disisi ruas jalan serta hawa yang lebih sejuk dari kota. Disana aku bertemu Ibu Euis, dia *bisa dibilang* sebagai co.assistant dari pemilik Padepokan Dayang Sumbi tersebut. Awalnya kufikir, padepokan itu tempat orang-orang mencari ilmu yang bersifat keagamaan, seperti yang sering kudengar dari televisi. Menurut temanku itu, padepokan identik dengan tempat pernikahan sirih berlangsung, seperti kasus artis penyanyi wanita yang sekarang mantan suaminya kini menjadi angota partai besar di Indonesia, sekaligus anggota legislatif DPR-RI. Untuk hal itu, aku no coment🙂. Bersama Bu Euis, kami diajak berkeliling perternakan ulat sutra disana. Bahkan aku melihat langsung bagaimana proses pembuatan ulat sutra menjadi sutra. Ulat sutra begitu memesona, dengan warna kulitnya yang putih, kecil, unik dan lucu. Tapi tetap saja aku geli melihatnya. Akhirnya, dengan bimbingan Bu Euis, aku memberanikan diri untuk memegangnya. Alasan sebenarnya adalah, karena aku tak mau dibandingkan dengan anak kecil( a.k.a jadi gensi donnggg) yang berani dan lihai memegang ulat sutra tersebut.
walaupun geli menyentuh ulatnya, narsis tetap menyatu;)

Selain tempat peternakan, disana juga menyediakan sarana edukatif buat anak-anak, pelajar, mahasiswa, dan umum. Adanya perpustakaan mini, membantu anak-anak untuk mengetahui profil ulat sutera itu sendiri, terang Bu Euis. Buku-buku banyak disumbangkan dari lembaga profit maupun non profit, biasanya bantuan berupa buku-buku langsung atau materi lainya. Pedepokan Dayang Sumbi ini juga memberikan pelayanan wisata yang biasa disebut wisata ilmu untuk penelitian. Biasanya, menurut Bu Euis, mengenai objek penelitian ini, adalah mahasiswa yang sedang menempuh semester akhir/ skripsi.
papan nama padepokan
putih-putih, imut nan lucu..tapi geliii iiiihhh..merinding gag ilang-ilang.

Setelah aku diajak berkeliling peternakan, aku diperlihatkan kembali kesebuah tempat proses pembuatn sutera. Disana, aku melihat berbagai macam alat tenun tradisional yang terlihat sudah tua, akan tetapi menurut Bu Euis, sekalipun tua hasilnya pun maksimal walapunpun memakan waktu lama dibanding alat pemintal modern saat ini. Rasa penasaranku semakin menjadi ketika rasa keingintahuanku untuk mencoba “bagaimana sih rasanya menenun itu “. Awalnya aku gagal, dan aku ditertawakan oleh temanku itu, tapi untuk kedua kalinya aku berhasil! Yeee senangnya…:)

Pernah liat Fauji Ba’dila membawakan suatu acara jalan-jalan kan di salah satu stasiun tv swasta? Yang kuingat saat itu dia juga sedang memintal kain sutera disebuah tempat, dan saat itu aku bisa merasakanya, kupikir mudah, ternyata aku salah besar! Banyak korelasi antara otak, tangan, dan kaki yang harus kesinambungan.
ini adalah hasil pintalan yang sudah jadi, foto ini diambil sama temanku itu.

bener-bener susah ya ternyata ..hehehehe..*
bersama bu euis dan hasil pemintalan, dari ulet-ulet kecil itu.

Akhirnya, waktu zhuhur tlah tiba. Sebelum aku hendak berpamit dari sana, aku dan temanku itu menunaikan ibadah kami dulu, dekat daerah khusus penginapan. Padepokan dayang sumbi ini, selain memiliki visi misi utnuk perkembangan dan pelestarian perternakan leluhur dan wisata ilmu, juga dijadikan tempat untuk penginapan. Biasanya ni teh, kalo yang nginep disini orang-orang yang mau neliti juga, makanya dibuat penginapan, tutur Bu Euis yang kini tlah memiliki dua orang anak.

Seusai sholat, aku segera bergegas pamit untuk melanjutkan perjalanan repotaseku yang lain di daerah Bandung lainnya. Tak lupa, seraya menuju parkiran mobil, aku dan temanku kembali mengucapkan terimakasih, karena tlah dibimbing mengenai Padepokan Dayang Sumbi ini.

Mengenai makana dari padepokan,setelah kutelusuri disana Kata padepokan sendiri ternyata tidak hanya terkenal sebagai tempat publik untuk mengerahkan segala *keinginannya*- menikah sirih. Tapi benar-benar untuk dijadikan tempat tinggal, bahkan pendidikan non formal, khususnya Padepokan Dayang Sumbi ini.

Kami pun berlaju, ketempat pusat kota. Kota Bandung yang memiliki sejuta warisan kuliner yang berhawa ggrggrgghh..sejuk dan memiliki endapan koleksi para bintang muda bersinar di Indonesia- kutipan dari jurnalis infotaiment- hehehee…

benarkah?